Chapter 12 : Aku Kembali, Permukaan
"Kau yakin? Terus terang saja, Hamakaze sudah kehilangan diri saat kau melancarkan serangan pertamamu. Devilish Aura -mu mengosongkan pikirannya"
"Tapi dia masih bisa bergerak?"
"Itu karena kemampuanku yang bernama Absolute Command "
"Jadi begitu!"
Leadred terlihat sudah mengetahuinya.
Kurasa karena dia sudah tahu akan kemampuan Revenge of the Grudgebearer-ku sekaligus kalau aku ini adalah Pahlawan, jadi seharusnya dia juga tahu soal kemampuan
Absolute Command -ku.
"Hamakaze terlihat masih bisa bergerak saat kusuruh untuk menghindari serangan pertamamu. Karena itulah aku memutuskan untuk melawanmu"
"..... Jadi saat itulah Anda terpikirkan perangkap itu?"
Aku takut mati lagi, jadi kubuat rencana untuk digunakan dalam pertarungan tersebut.
Bukan berarti aku ini sepenuhnya berotak-otot dalam bertarung.
"Meski kau mengalahkanku layaknya boneka kain. Tapi, yah semuanya berjalan dengan lancar. Peranku hanya untuk mengalihkan perhantianmu. Setelahnya, aku hanya perlu memberikan perintah yang takkan menarik perhatianmu"
"Jadi teriakan itu......"
"Tepat. Teriakan itulah tanda untuk membunuhmu. Dia mendengarku dan menusukmu menggunakan belati, lalu mengaktifkan sihirnya"
"Kurasa.... saya tertipu, lalu dikalahkan dengan mengagumkan? Terbunuh seperti itu terasa melegakan"
Leadred memanduku dan Hamakaze ke bagian belakang ruangan.
Perasaanku?
Jelas, terasa bagus. Mengingat begitu banyaknya aku membicarakan strategiku.
Maksudku, aku menyelesaikan
dungeon. Itu menyenangkan dan juga menyakitkan, tapi sungguh, aku berhasil melakukannya.
Hari ini hari yang mengagumkan. Mari buat hari ini jadi hari libur. Ya, ayo buat.
Aku sangat senang karena aku sungguh bisa merasakan kegembiraan.
"Kau terlihat senang, Daichi"
"Kau bisa tahu?"
"Ya, karena aku ingin bisa memahami semua yang kau pikirkan dan yang kau rasakan, Daichi"
...... kau seharusnya berhenti berkata begitu, aku tak terlalu biasa mendapatkan begitu banyak niat baik yang tulus dari siapa pun.
Kalau tidak, kelemahanku itu akan terpampang di wajahku. Nanti, bisa jadi salah paham.
Maaf karena mempunyai hasrat bodoh begitu.
"—Pahlawan, lewat sini"
Waktunya tiba lebih cepat dari yang kuduga karena Hamakze dan aku mengobrol dan merasa aman untuk pertama kalinya.
Ruangannya sederhana, tak terlalu ada banyak hal.
Satu-satunya yang ada di ruangan kubik itu adalah formasi sihir.
Formasi sihir tersebut nampak dibuat hanya untuk dipergunakan sebagai teleportasi saja. Aku sedikit cemas.
"Leadred. Apa ini benar-benar akan membawa kita ke permukaan?"
"Ini akan berfungsi selama Anda mengisinya dengan mana dan melafalkan Teleport . Hanya saja, pastikan untuk melakukannya berbarengan dengan saya. Kalau tidak, formasi sihirnya takkan berfungsi dan pintu masuk akan tertutup sendiri, disusul dengan penghentian dungeon."
"Itu mengerikan......"
"Itu karena Anda harus mengalahkan Penjaga terlebih dahulu untuk memasuki ruangan ini. Rasanya seperti saya melenyapkan segalanya bersama saya"
Kurasa aku bisa mengerti.
Mungkin aku akan membuat jebakan yang serupa.
Sesudah memberi harapan bahwa mereka akhirnya bisa kembali ke permukaan, akan kuhancurkan harapan tersebut dan membiarkan mereka jatuh ke dalam keputusasaan.
Aku ingin melakukan itu pada Samejima.
Melihat dia yang bisa membuat perangkap seperti ini, kupikir kita akan bisa berteman baik.
"Kalau begitu, apa kalian berdua siap?"
"Aku siap kapan saja"
"Yah, tak ada masalah"
Kami berpegangan tangan bersama untuk membentuk lingkaran di tengah ruangan.
Begitu kami mulai mengisi formasi sihir-nya denga mana , cahaya biru cerah pun memenuhi ruangan.
Kecil, kristal mirip salju terbentuk di udara, menari seolah memberkati kami.
"Kalau begitu, mari pergi. 3, 2, 1—"
""" Teleport!! """
Langit biru, awan putih. Cahaya matahari bersinar terang.
Tak ada bau darah, udara yang pengap, dan tak ada tembok di sekitar kami.
Melihat ke sekitar, sejauh mata memandang terlihat padang rumput yang hijau.
Hembusan angin membelai pipiku.
Aku kembali dari neraka.
Aku kembali.....!
Perasaan meluap dari dalam lubuk hatiku.
Karena tak tahan akan perasaan tersebut, aku pun berteriak dengan segenap tenaga.
"AKU KEMBAALIIIIIIII!!"
Sebelas hari semenjak kudatang ke dunia lain.
Empat hari semenjak teman-teman sekelasku membuangku.
Dengan mati tujuh kali—aku pun menyelesaikan dungeon Rigal Den.
Minggu, 25 Maret 2018
The Forsaken Hero Chapter 11 Bahasa indonesia
Chapter 11 : Awal Perang Kematian - Part 5
Inilah kali keduanya kumelihat kegelapan ini. Sebenarnya, aku tak merasa senang bisa datang ke sini untuk kedua kalinya dalam sehari, apalagi kini kumerasa terbiasa.
"Jadi, kau akan membunuhku lagi?"
Kugerakkan kepalaku untuk melihat ke arah wanita berambut panjang yang sudah membunuhku sebelumnya.
Oh?
Aku bisa menggerakkan kepalaku?
Kalau begitu, mungkin tubuhku bisa..... tidak.
[Tidak]
Menanggapinya dengan kurang baik, berbeda dengan sebelumnya, wanita itu tersenyum hingga aku bisa dengan mudah melihat kesenangannya.
[Terima kasih]
".... Hah?"
Aku sama sekali tak mengharapkan rasa terima kasihnya, jadinya aku terdengar sedikit bodoh.
[Terima kasih, aku bersyukur]
"Tidak, tunggu! Perkataanmu itu cuma membuatku merasa cemas!"
[Terima kasih. Sungguh, terima kasih]
Kali ini, dia menundukkan kepalanya.
...... Ada apa dengannya? Sungguh orang aneh.
...... Mungkin dia tak seburuk yang kukira?
Dia berbuat sesuatu yang mungkin bisa membuatku trauma, tapi..... aku akan menjadi orang yang lebih dewasa dan melupakannya!
[Terima kasih]
"Tak apa, jangan terlalu mengkhawatirkannya"
[Benarkah?]
"Ya"
[Kalau begitu—matilah]
"Ya—hah?"
.... Cara yang paling buruk untuk bangun. Kurang ajar, kenapa aku harus bermimpi soal diriku yang terbunuh setiap kalinya?
Aku pasti akan membalasanya saat nanti kita bertemu.
Pasti.
"..... Daichi, kau sudah bangun?"
Mendengar suara yang kukenal saat bangun, kumelihat duo yang membahayakan.
..... Besarnya. Panorama dari bawah sini begitu menakjubkan.
Tidak, mereka cuma cantik, cantik..... tunggu, ini bukan waktunya untuk bilang begitu, bodoh.
".... Hamakaze"
"Ya? Ada apa?"
".... kau memberikanku pangkuanmu lagi untuk dijadikan bantal?"
Ada kelembutan yang empuk pada bagian belakang kepalaku. Sensasi ini sudah pernah kurasakan sebelumnya.
Paha teman sekelasku, Hamakaze, sungguh nyaman.
Kini dia, yang jadi budakku, dulunya adalah seorang gadis populer di kelas.
Memikirkan itu, seharusnya aku senang.
"Ya! Kupikir akan membuatmu nyaman, Daichi"
Dia sedikit tersipu, dan tersenyum kecil.
..... Ini aneh. Hamakaze kelihatan lebih manis dari sebelumnya.
Malah jadi makin tegang, apa mungkin aku yang jadi aneh?
"...... Baiklah. Aku akan tetap seperti ini untuk sedikit lebih lama lagi"
"Apa pahaku terasa nyaman?"
".... Tidak, sama sekali tidak"
Aku berbalik, yang membuatnya tertawa.
Aku cukup yakin kalau dia tahu aku melakukannya untuk menyembunyikan wajahku yang memerah.
Akibatnya, Hamakaze pun mulai mengelus kepalaku.
Mungkin karena aku baru saja melalui pertarungan sampai mati, tapi ini rasanya sangat menenangkan. Apa semua gadis itu mempunyai toleransi yang tinggi?
Jangankan sampai bisa menyentuh seorang gadis, sampai sekarang saja aku bahkan belum bisa berbicara benar-benar dengan mereka, jadinya aku tak tahu apa-apa..... tunggu, kenapa aku malah mengejek diriku sendiri?
Aku terus membolak-balikkan kepalaku, lalu kuputuskan untuk bangun dan menempatkan kepala Hamakaze pada pangkuanku.
"Giliranku yang menyerang"
"U-Umm, Daichi?"
Kubelai rambutnya, bukan berarti ada darah atau kotoran apa pun pada rambutnya.
Berbuat begitu banyak hal hingga rambutnya kotor, dia juga sudah berjuang dengan keras, ya.....
".... Daichi"
"Apa?"
"Sekarang ini.... aku, aku sangat senang"
"B-Benarkah...."
Hentikan itu.
Buat seorang perjaka sepertiku, semua ini terlalu berlebihan. Aku bahkan tak bisa menatap langsung matanya.
".... Hamakaze"
"Apa?"
"Setelah kita keluar dari tempat ini, akan kuberikan kau satu keinginan, jadi pikirkanlah"
"..... .... ... Baik!"
Tepat saat suasananya mulai terasa seperti komedi romantis, kumelihat seseorang yang menatap kami dengan terdiam dan mata yang dingin.
"..... Ah, jadi kau juga di sini, ya?"
Orang yang menatap itu adalah Iblis merah tertentu, tatapan mata merah lembayungnya menusuk kami.
"Kau melupakanku?!"
Sediki kesal saat keberadaannya dilupakan, wanita itu pun mengembungkan pipinya yang membuatnya begitu mudah dipahami.
"Aku cuma bercanda, memangnya aku akan melupakan orang yang sudah membunuhku"
Aku mengangkat bahuku. Ya, aku takkan lupa.
"Kau sudah kubunuh sebelumnya, jadi di sinilah kita sekarang"
"Jangan bercanda, keparat"
Si Iblis pun memukulkan tangannya ke tanah.
"Kau membunuhku?! Lihat? Aku harusnya sudah mati!"
Si Iblis pun menanggalkan jubah yang ia kenakan.
Tubuh telanjangnya bisa terlihat sepenuhnya. Lubang yang harusnya terbuat di dadanya pun hilang, digantikan oleh dua tonjolan garang yang keluar agar keberadaannya diketahui.
"Aku seharusnya mati, tapi aku berada di sini, dan masih hidup! Tubuhku bahkan kembali normal! Apa yang kau lakukan padaku, keparat"
"Lah, jadi kau lebih memilih untuk tetap mati?"
"Mati tanpa rasa malu adalah jalannya para Iblis!"
"Terus, kenapa aku harus peduli?"
"Hah?!"
Menerima penghinaan yang begitu hebat karena masih hidup seusai dikalahkan, sang Iblis pun sangat geram pada kami.
Dia bahkan mungkin akan segera memukulku. Yah, bukan berarti aku perlu cemas.
Kenapa? Karena dia sudah jadi milikku.
"Aku sudah membuatmu jadi budakku"
"..... Hah? Aku, budak....? Yang benar saja....."
"Kalau kau ingin melihatnya, kau bisa memeriksa status-mu. Coba periksa saja sana"
"Omong kosong...... kalau kau bohong.... tunggu, tidak mungkin......"
"Cepat dan lihat saja sendiri"
"..... Buka "
Informasi miliknya pun muncul.
".... Ap?"
Si Iblis membelalakkan matanya, perlahan mulai memahami posisinya.
Kemarahan yang sebelumnya pun, kini sirna.
Dia duduk dengan menyilangkan kakinya dan menenggelamkan diri ke dalam pikirannya.
"Tidak mungkin. Tapi, hmm, kalau begitu....."
Untuk sejenak ia pun bergumam sendiri, tapi tiba-tiba, si Iblis—tidak, Akina Leadred mulai gemetaran. Mungkin aku sendirilah yang menyuruhnya untuk melihatnya, tapi aku juga malah terkejut.
Aku tak yakin mengapa, tapi kelihatannya dia tak mempunyai kemampuan spesial. Tapi dia mempunyai kemampuan unik, sama sepertiku.
"Hei, Leadred. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan—"
—padamu. Aku berhenti sebelum bisa menyelesaikan perkataanku.
Karena Leadred mulai tertawa pelan.
Tawanya perlahan mulai semakin keras, dan akhirnya mengatakan sesuatu yang tak jelas.
"Begitu ya...... jadi Pahlawan ini...... dia....? Kuhahaha! Menarik! Menarik sekali! Wanita itu..... seorang manusia...... akhirnya dia..... ahahahahaha!!"
Leadred terus tertawa sembari memukul-mukul lututnya.
"Hei, Pahlawan!"
"Ap-apa? Jangan bilang kalau kau tak ingin jadi budakku"
Aku sedikit bingung saat ia mendadak memanggilku, tapi aku sedikit berhasil mengatasinya.
Martabatku sebagai majikannya akan hilang kalau aku mengelak.
"Tidak! Aku akan dengan senang hati melayanimu! Tapi jawablah dulu pertanyaanku agar aku bisa tahu apa kau ini adalah majikanku sebenarnya atau bukan! Ya?!”
Majikan sebenarnya.......?
Apa maksudnya?
Bahkan tanpa itu pun, aku masihlah akan jadi majikanmu.
Apa ada yang salah dalam kepalanya saat dia dihidupkan kembali?
Aku cuma memertanyakan kewarasannya, tapi kelihatannya dia menganggap aku yang terdiam menyetujuinya dan mengajukan pertanyaan padaku.
"Kau! Pada kemampuan unik—kau mempunyai Revenge of the Grudgebearer, ‘kan?"
"—!!"
Tubuhku pun mulai menggigil.
Ada apa ini? Bagaimana bisa dia mengetahui kemampuanku?!
Apa dia juga bisa melihat jendela status-ku?
..... Tidak, aku harus tenang!
Aku harus menggunakan otakku untuk membuat keputusan terbaik. Saat ini, Leadred sudah menjadi budakku. Dia takkan bisa menyerangku.
Dan kalupun kita akhirnya bertarung bersama, ujung-ujungnya aku juga harus menjelaskan kemampuanku padanya.
Aku tak perlu lagi bingung karena dia sudah menyadarinya.
Dia sudah menyatakan kalau dia akan melayaniku. Dia cuma ingin memastikan apakah aku ini majikan sebenarnya atau bukan.
Seharusnya takkan menjadi masalah kalau aku memberitahunya dengan jujur.
"...... Ya, memang benar. Aku mempunyai kemampuan yang bernama Revenge of the Grudgebearer. Kalau kau pikir aku bohong, aku bisa menunjukkan status-ku padamu"
"Begitu, ya..... jadi kau......"
Dengan langkahnya yang goyah, Leadred pun menghampiriku.
Hamakaze dan aku pun bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan kalau dia memutuskan untuk menyerang, tapi pada akhirnya tak perlu ada yang dicemaskan.
Leadred berhenti, berlutut dengan satu lututnya dan menundukkan kepalanya.
"Kami telah menunggumu..... tidak, demi Yang Mulia. Harapan kami. Keinginan kami. Demi Yang Mulia, yang pantas untuk memerintah semua—"
Lalu, dia pun menyimpulkannya.
"—Demi Pahlawan yang akan membimbing kami, menyelamatkan kami"
"Saya...... Pahlawan"
"Saya disegel ditempat itu hingga saya bisa melayani Anda. Demi menunjukkan pada Pahlawan kami cara untuk membebaskan rekan-rekanku lainnya yang tersegel. Saya selalu menjalankan tugas saya. Dan kini, kita akan menghancurkan umat manusia bersama"
Oh, sial. Kepalaku sakit.....
".... Tunggu sebentar"
Aku menghentikannya, berusha menahan sakit kepalaku.
"Aku sudah jadi Pahlawan. Kau paham, ‘kan? Malahan, cuma semua itu yang harus kukatakan"
"Ya, saya tahu. Yang Mulia adalah seorang Pahlawan"
"Benar? Aku tak bisa pergi dan menghancurkan umat manusia, ‘kan?"
Aku tak tahu apa yang akan dilakukan Dewi yang berpikiran sederhana terhadapku kalau aku melakukan itu.
Dia mungkin akan jadi sangat marah hingga menghapus keberadaanku.
"Sebenarnya, Yang Mulia menjadi Pahlawan karena tujuan Anda adalah untuk melenyapkan umat manusia"
"Tapi, aku belum pernah dengar Pahlawan manapun yang menghabisi umat manusia?!"
Leadred sedikit memiringkan kepalanya ke samping.
Aku merasa pemikiran kita berbeda.......
Setidaknya, dia sadar kalau aku adalah Pahlawan. Mungkin arti Pahlawan buat dirinya berbeda?
"Leadred. Bagimu Pahlawan itu apa"
Terlihat seakan dia berencana menuruti perintahku, Leadred pun mulai mengatakan soal Pahlawan yang dibayangkannya.
"Pahlawan adalah seseorang yang berjuang untuk melindungi kami dari para monster kejam yang menghancurkan rumah dan harta milik kami. Seseorang yang mempunyai keberanian untuk memimpin dan menyerang musuh, seseorang yang tak takut menggunakan tubuh mereka untuk melindungi sekutunya. Seseorang yang merupakan cahaya harapan kami, seseorang yang menghalau kegelapan keputusasaan"
Dia mulai menatapku dengan rasa hormat, berbicara seperti sedang mabuk.
".... Jadi begitu"
Aku mengerti kalau aku sama sekali tak mengerti maksudnya.
Jenis Pahlawan yang digambarkannya berbeda dengan yang kubayangkan.
Sepertinya aku harus menemukan tempat untuk tinggal dan membicarakannya lagi dengan dia nanti.
Kalau dipikir-pikir, aku lupa setelah dia memanggilku Pahlawan-nya, tapi ada hal lain yang sangat penting.
"Leadred. Ada lagi yang ingin kutanyakan padamu...."
"Selama saya mengetahuinya, saya akan memberitahukan apa pun"
"Apa aku bisa kembali ke permukaan dengan pergi ke lantai terbawah dungeon ini?"
Tujuan awal kami adalah untuk keluar dari sini dan memberikan Samejima penderitaan yang setimpal dengan yang dia berikan pada kami.
Semakin cepat kita bisa keluar, semakin bagus.
Sebaliknya, aku tak berpikir aku bisa mengalahkan seseorang yang lebih kuat dari Leadred.
"Saya sudah menyiapkan formasi sihir teleportasi yang sudah siap, jadi seharusnya tak ada masalah bila kita menggunakannya"
"Begitu, ya! Kau sudah menyiapkannya?"
Tunggu, dia sudah menyiapkannya?
Bukannya itu sudah disiapkan?
Pertanyaanku pun dengan cepat terselesaikan.
"Ini adalah lantai terakhir Rigal Den. Saya, Akina Leadred, bertugas sebagai Penjaganya"
Dia berbicara dengan tersenyum, benar-benar berbeda saat kita bertarung.
" Dungeon Terselesaikan. Selamat, Pahlawan".
Inilah kali keduanya kumelihat kegelapan ini. Sebenarnya, aku tak merasa senang bisa datang ke sini untuk kedua kalinya dalam sehari, apalagi kini kumerasa terbiasa.
"Jadi, kau akan membunuhku lagi?"
Kugerakkan kepalaku untuk melihat ke arah wanita berambut panjang yang sudah membunuhku sebelumnya.
Oh?
Aku bisa menggerakkan kepalaku?
Kalau begitu, mungkin tubuhku bisa..... tidak.
[Tidak]
Menanggapinya dengan kurang baik, berbeda dengan sebelumnya, wanita itu tersenyum hingga aku bisa dengan mudah melihat kesenangannya.
[Terima kasih]
".... Hah?"
Aku sama sekali tak mengharapkan rasa terima kasihnya, jadinya aku terdengar sedikit bodoh.
[Terima kasih, aku bersyukur]
"Tidak, tunggu! Perkataanmu itu cuma membuatku merasa cemas!"
[Terima kasih. Sungguh, terima kasih]
Kali ini, dia menundukkan kepalanya.
...... Ada apa dengannya? Sungguh orang aneh.
...... Mungkin dia tak seburuk yang kukira?
Dia berbuat sesuatu yang mungkin bisa membuatku trauma, tapi..... aku akan menjadi orang yang lebih dewasa dan melupakannya!
[Terima kasih]
"Tak apa, jangan terlalu mengkhawatirkannya"
[Benarkah?]
"Ya"
[Kalau begitu—matilah]
"Ya—hah?"
***
Aku pasti akan membalasanya saat nanti kita bertemu.
Pasti.
"..... Daichi, kau sudah bangun?"
Mendengar suara yang kukenal saat bangun, kumelihat duo yang membahayakan.
..... Besarnya. Panorama dari bawah sini begitu menakjubkan.
Tidak, mereka cuma cantik, cantik..... tunggu, ini bukan waktunya untuk bilang begitu, bodoh.
".... Hamakaze"
"Ya? Ada apa?"
".... kau memberikanku pangkuanmu lagi untuk dijadikan bantal?"
Ada kelembutan yang empuk pada bagian belakang kepalaku. Sensasi ini sudah pernah kurasakan sebelumnya.
Paha teman sekelasku, Hamakaze, sungguh nyaman.
Kini dia, yang jadi budakku, dulunya adalah seorang gadis populer di kelas.
Memikirkan itu, seharusnya aku senang.
"Ya! Kupikir akan membuatmu nyaman, Daichi"
Dia sedikit tersipu, dan tersenyum kecil.
..... Ini aneh. Hamakaze kelihatan lebih manis dari sebelumnya.
Malah jadi makin tegang, apa mungkin aku yang jadi aneh?
"...... Baiklah. Aku akan tetap seperti ini untuk sedikit lebih lama lagi"
"Apa pahaku terasa nyaman?"
".... Tidak, sama sekali tidak"
Aku berbalik, yang membuatnya tertawa.
Aku cukup yakin kalau dia tahu aku melakukannya untuk menyembunyikan wajahku yang memerah.
Akibatnya, Hamakaze pun mulai mengelus kepalaku.
Mungkin karena aku baru saja melalui pertarungan sampai mati, tapi ini rasanya sangat menenangkan. Apa semua gadis itu mempunyai toleransi yang tinggi?
Jangankan sampai bisa menyentuh seorang gadis, sampai sekarang saja aku bahkan belum bisa berbicara benar-benar dengan mereka, jadinya aku tak tahu apa-apa..... tunggu, kenapa aku malah mengejek diriku sendiri?
Aku terus membolak-balikkan kepalaku, lalu kuputuskan untuk bangun dan menempatkan kepala Hamakaze pada pangkuanku.
"Giliranku yang menyerang"
"U-Umm, Daichi?"
Kubelai rambutnya, bukan berarti ada darah atau kotoran apa pun pada rambutnya.
Berbuat begitu banyak hal hingga rambutnya kotor, dia juga sudah berjuang dengan keras, ya.....
".... Daichi"
"Apa?"
"Sekarang ini.... aku, aku sangat senang"
"B-Benarkah...."
Hentikan itu.
Buat seorang perjaka sepertiku, semua ini terlalu berlebihan. Aku bahkan tak bisa menatap langsung matanya.
".... Hamakaze"
"Apa?"
"Setelah kita keluar dari tempat ini, akan kuberikan kau satu keinginan, jadi pikirkanlah"
"..... .... ... Baik!"
Tepat saat suasananya mulai terasa seperti komedi romantis, kumelihat seseorang yang menatap kami dengan terdiam dan mata yang dingin.
"..... Ah, jadi kau juga di sini, ya?"
Orang yang menatap itu adalah Iblis merah tertentu, tatapan mata merah lembayungnya menusuk kami.
"Kau melupakanku?!"
Sediki kesal saat keberadaannya dilupakan, wanita itu pun mengembungkan pipinya yang membuatnya begitu mudah dipahami.
"Aku cuma bercanda, memangnya aku akan melupakan orang yang sudah membunuhku"
Aku mengangkat bahuku. Ya, aku takkan lupa.
"Kau sudah kubunuh sebelumnya, jadi di sinilah kita sekarang"
"Jangan bercanda, keparat"
Si Iblis pun memukulkan tangannya ke tanah.
"Kau membunuhku?! Lihat? Aku harusnya sudah mati!"
Si Iblis pun menanggalkan jubah yang ia kenakan.
Tubuh telanjangnya bisa terlihat sepenuhnya. Lubang yang harusnya terbuat di dadanya pun hilang, digantikan oleh dua tonjolan garang yang keluar agar keberadaannya diketahui.
"Aku seharusnya mati, tapi aku berada di sini, dan masih hidup! Tubuhku bahkan kembali normal! Apa yang kau lakukan padaku, keparat"
"Lah, jadi kau lebih memilih untuk tetap mati?"
"Mati tanpa rasa malu adalah jalannya para Iblis!"
"Terus, kenapa aku harus peduli?"
"Hah?!"
Menerima penghinaan yang begitu hebat karena masih hidup seusai dikalahkan, sang Iblis pun sangat geram pada kami.
Dia bahkan mungkin akan segera memukulku. Yah, bukan berarti aku perlu cemas.
Kenapa? Karena dia sudah jadi milikku.
"Aku sudah membuatmu jadi budakku"
"..... Hah? Aku, budak....? Yang benar saja....."
"Kalau kau ingin melihatnya, kau bisa memeriksa status-mu. Coba periksa saja sana"
"Omong kosong...... kalau kau bohong.... tunggu, tidak mungkin......"
"Cepat dan lihat saja sendiri"
"..... Buka "
Informasi miliknya pun muncul.
Akina Leadred
Job: High-Grade Slave Lv. 74
Stamina: 5200
Mana: 3800
Kekuatan: 6700
Perlawanan: 2900
Keluwesan: 4000
Kemampuan Unik:
- [Devilish Aura] Nilai Mana menurun 100 kali berdasarkan perbedaan level antara sang pengguna dan target. Ditambah lagi, takkan pulih sampai sang pengguna pingsan atau mati.
- [Devil Flame] Memerlukan 100 Mana untuk mengaktifkannya. Tak memerlukan mantera untuk mengaktifkannya dengan kemampuan serangan yang setara dengan flame orb tingkat kerajaan.
- [Curse of the Demon God] Mampu menghentikan serangan Pahlawan. Mengurangi semua nilai status-nya 1000. Ditambah lagi, sihir menjadi takkan bisa digunakan lagi.
- Kondisi penghapusan terpenuhi. Hapus kondisi? Tolong jawab dengan YA atau TIDAK.
Kondisi khusus:
- [High-Grade Slave] Master: Katsuragi Daichi. Setiap serangan terhadap tuanmu, Katsuragi Daichi, diblokir. Ketaatan yang dipaksakan sampai dilepaskan.
".... Ap?"
Si Iblis membelalakkan matanya, perlahan mulai memahami posisinya.
Kemarahan yang sebelumnya pun, kini sirna.
Dia duduk dengan menyilangkan kakinya dan menenggelamkan diri ke dalam pikirannya.
"Tidak mungkin. Tapi, hmm, kalau begitu....."
Untuk sejenak ia pun bergumam sendiri, tapi tiba-tiba, si Iblis—tidak, Akina Leadred mulai gemetaran. Mungkin aku sendirilah yang menyuruhnya untuk melihatnya, tapi aku juga malah terkejut.
Aku tak yakin mengapa, tapi kelihatannya dia tak mempunyai kemampuan spesial. Tapi dia mempunyai kemampuan unik, sama sepertiku.
"Hei, Leadred. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan—"
—padamu. Aku berhenti sebelum bisa menyelesaikan perkataanku.
Karena Leadred mulai tertawa pelan.
Tawanya perlahan mulai semakin keras, dan akhirnya mengatakan sesuatu yang tak jelas.
"Begitu ya...... jadi Pahlawan ini...... dia....? Kuhahaha! Menarik! Menarik sekali! Wanita itu..... seorang manusia...... akhirnya dia..... ahahahahaha!!"
Leadred terus tertawa sembari memukul-mukul lututnya.
"Hei, Pahlawan!"
"Ap-apa? Jangan bilang kalau kau tak ingin jadi budakku"
Aku sedikit bingung saat ia mendadak memanggilku, tapi aku sedikit berhasil mengatasinya.
Martabatku sebagai majikannya akan hilang kalau aku mengelak.
"Tidak! Aku akan dengan senang hati melayanimu! Tapi jawablah dulu pertanyaanku agar aku bisa tahu apa kau ini adalah majikanku sebenarnya atau bukan! Ya?!”
Majikan sebenarnya.......?
Apa maksudnya?
Bahkan tanpa itu pun, aku masihlah akan jadi majikanmu.
Apa ada yang salah dalam kepalanya saat dia dihidupkan kembali?
Aku cuma memertanyakan kewarasannya, tapi kelihatannya dia menganggap aku yang terdiam menyetujuinya dan mengajukan pertanyaan padaku.
"Kau! Pada kemampuan unik—kau mempunyai Revenge of the Grudgebearer, ‘kan?"
"—!!"
Tubuhku pun mulai menggigil.
Ada apa ini? Bagaimana bisa dia mengetahui kemampuanku?!
Apa dia juga bisa melihat jendela status-ku?
..... Tidak, aku harus tenang!
Aku harus menggunakan otakku untuk membuat keputusan terbaik. Saat ini, Leadred sudah menjadi budakku. Dia takkan bisa menyerangku.
Dan kalupun kita akhirnya bertarung bersama, ujung-ujungnya aku juga harus menjelaskan kemampuanku padanya.
Aku tak perlu lagi bingung karena dia sudah menyadarinya.
Dia sudah menyatakan kalau dia akan melayaniku. Dia cuma ingin memastikan apakah aku ini majikan sebenarnya atau bukan.
Seharusnya takkan menjadi masalah kalau aku memberitahunya dengan jujur.
"...... Ya, memang benar. Aku mempunyai kemampuan yang bernama Revenge of the Grudgebearer. Kalau kau pikir aku bohong, aku bisa menunjukkan status-ku padamu"
"Begitu, ya..... jadi kau......"
Dengan langkahnya yang goyah, Leadred pun menghampiriku.
Hamakaze dan aku pun bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan kalau dia memutuskan untuk menyerang, tapi pada akhirnya tak perlu ada yang dicemaskan.
Leadred berhenti, berlutut dengan satu lututnya dan menundukkan kepalanya.
"Kami telah menunggumu..... tidak, demi Yang Mulia. Harapan kami. Keinginan kami. Demi Yang Mulia, yang pantas untuk memerintah semua—"
Lalu, dia pun menyimpulkannya.
"—Demi Pahlawan yang akan membimbing kami, menyelamatkan kami"
"Saya...... Pahlawan"
"Saya disegel ditempat itu hingga saya bisa melayani Anda. Demi menunjukkan pada Pahlawan kami cara untuk membebaskan rekan-rekanku lainnya yang tersegel. Saya selalu menjalankan tugas saya. Dan kini, kita akan menghancurkan umat manusia bersama"
Oh, sial. Kepalaku sakit.....
".... Tunggu sebentar"
Aku menghentikannya, berusha menahan sakit kepalaku.
"Aku sudah jadi Pahlawan. Kau paham, ‘kan? Malahan, cuma semua itu yang harus kukatakan"
"Ya, saya tahu. Yang Mulia adalah seorang Pahlawan"
"Benar? Aku tak bisa pergi dan menghancurkan umat manusia, ‘kan?"
Aku tak tahu apa yang akan dilakukan Dewi yang berpikiran sederhana terhadapku kalau aku melakukan itu.
Dia mungkin akan jadi sangat marah hingga menghapus keberadaanku.
"Sebenarnya, Yang Mulia menjadi Pahlawan karena tujuan Anda adalah untuk melenyapkan umat manusia"
"Tapi, aku belum pernah dengar Pahlawan manapun yang menghabisi umat manusia?!"
Leadred sedikit memiringkan kepalanya ke samping.
Aku merasa pemikiran kita berbeda.......
Setidaknya, dia sadar kalau aku adalah Pahlawan. Mungkin arti Pahlawan buat dirinya berbeda?
"Leadred. Bagimu Pahlawan itu apa"
Terlihat seakan dia berencana menuruti perintahku, Leadred pun mulai mengatakan soal Pahlawan yang dibayangkannya.
"Pahlawan adalah seseorang yang berjuang untuk melindungi kami dari para monster kejam yang menghancurkan rumah dan harta milik kami. Seseorang yang mempunyai keberanian untuk memimpin dan menyerang musuh, seseorang yang tak takut menggunakan tubuh mereka untuk melindungi sekutunya. Seseorang yang merupakan cahaya harapan kami, seseorang yang menghalau kegelapan keputusasaan"
Dia mulai menatapku dengan rasa hormat, berbicara seperti sedang mabuk.
".... Jadi begitu"
Aku mengerti kalau aku sama sekali tak mengerti maksudnya.
Jenis Pahlawan yang digambarkannya berbeda dengan yang kubayangkan.
Sepertinya aku harus menemukan tempat untuk tinggal dan membicarakannya lagi dengan dia nanti.
Kalau dipikir-pikir, aku lupa setelah dia memanggilku Pahlawan-nya, tapi ada hal lain yang sangat penting.
"Leadred. Ada lagi yang ingin kutanyakan padamu...."
"Selama saya mengetahuinya, saya akan memberitahukan apa pun"
"Apa aku bisa kembali ke permukaan dengan pergi ke lantai terbawah dungeon ini?"
Tujuan awal kami adalah untuk keluar dari sini dan memberikan Samejima penderitaan yang setimpal dengan yang dia berikan pada kami.
Semakin cepat kita bisa keluar, semakin bagus.
Sebaliknya, aku tak berpikir aku bisa mengalahkan seseorang yang lebih kuat dari Leadred.
"Saya sudah menyiapkan formasi sihir teleportasi yang sudah siap, jadi seharusnya tak ada masalah bila kita menggunakannya"
"Begitu, ya! Kau sudah menyiapkannya?"
Tunggu, dia sudah menyiapkannya?
Bukannya itu sudah disiapkan?
Pertanyaanku pun dengan cepat terselesaikan.
"Ini adalah lantai terakhir Rigal Den. Saya, Akina Leadred, bertugas sebagai Penjaganya"
Dia berbicara dengan tersenyum, benar-benar berbeda saat kita bertarung.
" Dungeon Terselesaikan. Selamat, Pahlawan".
Minggu, 11 Maret 2018
The Forsaken Hero Chapter 10 Bahasa Indonesia
Chapter 10 : Awal Perang Kematian - Part 4
Sekali lagi, kami berada di pintu itu lagi.
Rantai yang menyegel pintunya pun sudah tak ada lagi, tapi pintunya tertutup, serupa dengan Rumah Monster di lantai 51, memberitahuku kalau ini adalah ruangan penting.
Seperti yang kuduga.
Kabut masih keluar dari celah di sekitar pintu, seakan waktu berputar kembali untuk ruangan ini.
Yang jelas, saat ini aku mempunyai seorang budak Pahlawan, Hamakaze dan High Wulve Satu dan Dua.
"High Wulf Satu dan Dua, segera lompatlah ke ruangan begitu pintunya terbuka. Hamakaze, lindungilah aku dengan nyawamu"
Kuberikan perintah pada budak-budakku menggunakan Absolute Command .
Kami harus melakukan sesuatu terhadap kabut itu, sehingga aku bisa melancarkan serangan. Akan tetapi, apa pun yang berada di sana takkan membiarkanku untuk melakukannya.
Berdasarkan apa yang dikatakan Hamakaze, makhluk itu tak mengejar kami saat dia berlari. Aku yakin bukan karena ia tak bisa melakukannya.
Bagian-bagian tubuhku yang terpotong, semuanya masuk ke dalam ruangan itu.
Bukan berarti separuh bagian bawahku tak terpotong sejak aku mati. Apa pun yang berada di dalam ruangan itu takkan bisa mengerahkan kekuatannya karena itu berada di luar ruangan.
Kalau memang benar begitu, selama aku menyerang dari luar ruangan, aku seharusnya mampu melakukannya dengan sangat aman.
Kujelaskan perkiraanku pada Hamakaze saat kami memeroleh kedua High Wulves ini.
Dia setuju denganku, bahkan sampai memohon untuk tetap berada di sampingku untuk berjaga-jaga.
Dan kami pun tiba di sini.
".... Daichi"
"Kali ini, aku akan membunuhnya menggunakan Berserk Tempest. Kau harus sepenuhnya berkonsentrasi untuk melindungiku"
"..... Baik"
Hamakaze pun mempersiapkan belatinya dan segera mempersiapkan diri untuk melafalkan sihir Wind saat aku berdiri dengan menggunakan Berserk Tempest .
"Sekarang, Hamakaze! Buka pintunya!"
"Baik!"
Hamakaze pun membukakan pintunya.
Itu adalah pertanda untuk memulai pertarungan kematian.
"Satu! Pergi!"
"Guoooh!!"
Serigala perak yang melolong pun melompat ke ruangan kematian.
" GUOOOOW!!"
Teriakan yang ganas membenamkan lolongannya High Wulf. Aku belum melihatnya, tapi aku ingat suara itu.
Dari bayangan besarnya saja sudah cukup untuk memberitahuku kalau itu ada di sana.
" GUOOOH!!"
High Wulf ditebas oleh ayunan pedang sadis yang bahkan tak bisa kulihat.
Bersamaan dengan itu, High Wulf Dua pun berlari.
Dan pada saat itu juga, aku menembakkan sihirku.
" Berserk Tempest !"
Amukan angin kencang pun meledak keluar dari tanganku. Kabut pun tersingkirkan saat itu menyembur ke luar dari ruangan dan sekitar kami.
" Wind!"
Hamakaze, tak ingin penglihatan kami terhalang oleh kabut, memisahkan kabutnya ke kiri dan kanan kami.
Selama saat itu, aku terus melihat ke dalam ruangan.
Ada suara dentangan logam.
Seluruh tubuh High Wulf pun tersayat dengan bersih.
Kabut menghilang, aku pun bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalam ruangan itu.
Saat kabutnya benar-benar hilang—aku membelalakkan mataku.
Bayangan besar itu hanyalah sebuah ilusi.
Itu adalah seorang wanita yang mengenakan jubah hitam.
Angin mengibaskan tudungnya, aku pun melihat mata merah darah dan rambutnya.
Tebakan Hamakaze sedikit meleset.
Itu bukanlah mansuia, melainkan humanoid.
".... Serius, kau pasti bercanda, ‘kan?"
".... Tidak mungkin....."
Di dunia asalku, bahkan itu adalah sesuatu yang melegenda.
Perwujudan dari ketakutan. Sebuah pedang berdarah. Kulit merah. Mata merah menyala. Dua tanduk yang tumbuh dari kepalanya.
Yah, memang itu.
Iblis.
"Ini adalah kali kedua kita bertemu bukan, Pahlawan?"
Senyuman permusuhannya menunjukkan taringnya yang tajam.
Naluriku bilang kalau dia berbahaya.
Dia melepaskan perasaan haus darah yang sama dengan wanita itu.
Seseorang yang ahli dalam mengembil nyawa setiap orang yang melihatnya.
Dan kini, ia menatap lurus ke arah kami.
"Hei.... bagaimana kalau kita mulai dengan membunuh?"
Menebas udara, pertarungan kematian pun dimulai.
"Apa?!"
Dugaanku terbukti salah, aku jadi bingung. Yang jelas, aku harus menghindarinya. Walau begitu, Hamakaze tetap berdiri layaknya patung.
Apa perasaan haus darahnya yang membuatnya terdiam......?!
"LOMPAT KE KANAN!!"
Melihatnya yang tak mampu bergerak setelah tertangkap oleh perasaan haus darahnya, aku berteriak sekeras mungkin. Memaksanya bergerak menggunakan Absolute Command , tubuh Hamakaze pun melompat ke kanan seperti yang kuperintahkan.
Tebasan pedang menghantam tembok dungeon, meledakkannya. Temboknya tak hancur, tapi masih terdengar seperti ledakan.
"Kuh!!"
Suaranya sangatlah keras hingga kupikir gendang telingaku bisa meledak, tapi aku lebih mengkhawatirkan gadis yang baru saja ambruk di sampingku.
"Kuatkanlah dirimu, Hamakaze!"
"Maaf, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku!"
Hamakaze tak bisa tenang, dia layaknya anak kecil yang ketakutan.
Sialan, apa dia jadi kacau?
"Tuan Pahlawan kecil ini memang hebat, kau masih waras setelah menerima Devilish Aura -ku ya?"
Dia menyindirku dengan berpura-pura memujiku dari ruangannya.
Sang Iblis pun masih menatap kami dari dalam ruangan.
"Hei, tinggalkanlah si cengeng itu dan kemarilah bermain bersamaku. Menunggu membuatku gila"
"Kau tahu, aku tahu kenapa kau ada di sini, ‘kan? Tempat ini sangatlah penting bagi kalian berdua"
..... Yang benar saja. Dia tahu kenapa kami di sini?
Dia bahkan memanggilku Pahlawan.
"Biar begitu, tak ada alasan bagiku untuk bertarung sendirian"
"Bukan berarti dia akan bisa bertarung lagi. Dia akan terus terjebak seperti itu, Devilish Aura -ku takkan berhenti kecuali kau mengalahkanku"
"..... Kau pikir aku akan menuruti perkataanmu?"
..... apa yang harus kulakukan?
Yang jelas, aku harus mengetahui apa yang teradi pada Hamakaze.
" Open "
Jendela status pun muncul begitu aku mengatakan kata kuncinya. Ada sederetan teks baru mengenai status Hamakaze.
"Kau memahaminya? Kelihatannya kau tak kehilangan pikiranmu, jadi kau pasti sekuat diriku, ya? Aku ingin kita bertarung murni satu lawan satu "
"Cih....."
Sisa Mana -ku terpotong menjadi seribu. Aku tak bisa menggunakan sihir tingkat kekaisaran.
Jadi aku harus melawanya dengan sihir tingkat roh atau jiwa?
Aku. Sendirian.
"..... Jangan bercanda. Kalau aku melawanmu, aku akan bertarung bersamanya"
"Bersamanya? Dia tidaklah berguna, atau mungkin kau mempunyai suatu rencana?"
Aku terus berbicara untuk mengulur waktu. Aku harus memikirkan cara untuk menghadapinya.
.... suatu rencana, ya. Saat ini, yang bisa kupikirkan hanyalah Revenge of the Grudgebearer .
..... Haruskah aku mati?
Tidak, itu takkan berhasil. Takkan ada orang yang bisa mengambil tubuhku.
Mungkin aku bisa kabur dengan menyuruh Hamakaze menggunakan
Absolute Command ...?
Tidak, tidak mungkin Iblis ini akan membiarkannya.
Kalau Hamakaze mati, maka semuanya berakhir. Aku masih bisa hidup lagi, tapi ada banyak kesenjangan waktu antara saat aku hidup kembali dan saat aku sadar. Si Iblis itu mungkin akan terus membunuku selamanya.
Pada akhirnya, tak ada pilihan selain melawannya.
Aku menatap balik si Iblis dan melototinya.
"Hoh, apa akhirnya kau sudah memikirkan sesuatu? Dari tadi aku sudah menunggu di sini, jadi setidaknya pastikanlah untuk membuat ini sedikit menyenangkan, mengerti?"
"Kau bicara seperti bisa membunuhku kapan saja?"
"Tentu saja bisa, karena aku hebat. Bisa kita mulai sekarang?"
"... Ya, ayo kita mulai"
Menampar pipiku, kusemangati diriku.
Aku membawa Hamakaze ke tempat yang terlihat aman terhadap serangan nyasar yang akan mengenainya dan masuk ke ruangannya si Iblis.
Seketika, tubuh merahnya melesat ke arah tubuhku.
"Kuh!"
Aku menyilangkan lenganku dan menahan pukulannya, menurunkan pusat gravitasiku supaya tak terdorong mundur.
"Ooh? Kuat sekali"
"Berkat kau, aku jadi cukup kuat juga"
Mengunci tinjunya, aku pun memutar dan mengangkatnya ke udara.
Sebagian tubuhnya berputar mengikuti lemparan, dia pun mendarat dan menghampiriku dengan pedang di tangan kanannya.
"Cih!"
Dia mengincar kakiku. Dipaksa melepaskan tangannya untuk menghindar, aku tersandung, membuat sikapku hancur. Dia menindaklanjutinya dengan melontarkan sihir.
" Devil Flame!"
"Cepat sekali!"
Mengabaikan mantranya, dia langsung mewujudkan bola berapi dan melontarkannya padaku. Tak bisa menghindarinya, aku langsung terkena serangannya dan terhempaskan ke belakang.
"Gah!!"
Menabrak tembok, seluruh tubuhku terasa sakit.
Tentunya, aku menerima damage karena menghantam tembok, tapi masalah utamanya adalah tubuhku terbakar. Itu jauh lebih panas ketimbang Fireball sebelumnya. Seluruh tubuhku terbakar, tenggorokanku juga terasa terbakar.
"Wahai roh air, berikan aku karuniamu! Water Ball !"
Kugunakan sihir tipe air untuk memadamkan apinya.
"Geh!?"
Masih terbatuk-batuk dan merangkak, aku merasakan tendangan pada tubuhku, melontarkanku ke udara. Benturannya jauh lebih hebat dari yang bisa Samejima lakukan.
Tubuhku terus terbang ke atas.
Lurus menuju ke langit-langit.
"Memangnya aku akan menunggu!"
Dia melancarkan tebasan pedang lainnya padaku.
Aku tak bisa menghindarinya!
"Wahai roh angin, sayatan udara! Wind Slice!"
Setidaknya aku bisa mengurangi kekuatannya dengan membuatnya harus melewati pisau angin terlebih dahulu.
"Gaaah!!"
Mendorong tubuhku sampai pada batasnya, aku memaksakan diri untuk bergerak.
Ujung serangannya menggores pipiku, darah melayang di udara.
Serangannya meleset!
Mendapatkan kesempatan, aku menggunakan gravitasi untuk menjatuhkan diri, dan dengan cepat melancarkan drop - kick padanya.
"Raaaah!"
"Hebat juga! Tapi kau masih terlalu lemah!"
Akan tetapi, dia dengan mudahnya menghentikan seranganku menggunakan satu tangan rampingnya.
"Tidak mungkin!?"
"Rasakan ini!!"
Kakiku mengeluarkan suara yang mengkhawatirkan. Mencengkram kakiku, si Iblis melemparkanku ke tanah.
"Kah....!!?"
Dadaku terasa sakit, aku tak bisa bernapas dengan baik. Kaki kananku patah dan bengkok ke arah yang aneh, tulangku menembus kulit.
Rasa sakit itu menghantamku bagaikan arus yang mengamuk.
"Ahhhhh!!"
"Apa kau ini batu atau sesu—atu!!"
Dia menusukkan pedangnya padaku. Berguling, aku menghindarinya dan berdiri—tapi pada akhirnya terjatuh kembali.
Tepat pada si Iblis.
Kalau..... kalau aku harus merasakan sakit sebanyak ini, cepat....
cepatlah....!
"BUNUH AKU!!"
Tiba-tiba mendengarku yang mengemis untuk kematianku sendiri, si Iblis pun mengerutkan alisnya.
"Diam!"
Dia mencoba menjauhkanku darinya, tapi kumanfaatkan sebaik mungkin apa yang bisa kulakukan dari status
strength -ku yang sangat tinggi dan menempel padanya.
"Cepatlah bunuh! Cepat! Lakukanlah!"
"Ya, tapi menjauhlah dariku brengsek!!"
"Dengan senjatamu! Dengan sihirmu! Cepatlah lakukan!!"
"Dasar bajingan picik!"
Dia mendorong jauh wajahku dengan tangannya dan melancarkan Devil Flame padaku.
Aku bahkan sudah tak peduli lagi dengan seberapa panasnya, aku hanya ingin dia segera membunuhku.
Cepat, sebelum aku..... pingsan.....
Saat itu, aku tak bisa melihat si Iblis. Semua yang kulihat adalah kemampuan baru yang kudapatkan di dungeon.
Meraih jubahnya untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pingsan, aku menempel padanya.
Dasar jalang, ini belum berakhir!
"Tolong, lakukanlah......!"
Dengan mulut yang penuh darah, aku pun meludahkannya seperti mengutuk.
"Ya, dengan senang hati!"
Menanggapinya, dewa kematian di hadapanku mengangkat senjatanya di atas kepala.
Melihat itu, aku pun menyeringai.
"....... Aku menang"
Pedang Iblis pun terhenti.
Dia diserang oleh rasa ketidaknyamanan. Sedikit keheranan.
Ada belati yang keluar dari dadanya.
"B.... Bagaimana....!?"
" Wind!"
Sebuah mantra terselesaikan seolah membenamkan perkataannya, sebuah lubang besar terbuka pada dadanya.
Si Iblis pun meludahkan banyak darah, nyaris tak bisa menopang diri dengan pedangnya.
Apa yang kulihat dari belakang yang mengejutkan si Iblis adalah pemain kunci pertarungan ini.
"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku!"
Budak berambut hitam yang marah dengan belati berdarah di tangannya. Seseorang yang hanya mengikuti perintah yang diberikan padannya, Hamakaze Shuri.
"Sudah kubilang.... bukan? Kalau aku.... akan bertarung, bersamanya....."
Aku pasti sudah mengatakannya. Dalam pertarungan ini, aku tak berniat untuk bertarung sendirian.
Aku sudah berencana untuk bertarung bersama Hamakaze sepanjang waktu ini.
"..... kupikir.... ini pertarungan satu lawan satu........"
Si Iblis meringis kesakitan. Bagaimanapun juga, serangan itu sepertinya memang fatal.
"Memangnya, aku peduli. Selama..... aku bisa menang......"
"Dasar..... brengsek....."
Tanpa bisa menyelesaikannya, dia ambruk tak berdaya ke tanah.
Tentu saja, itu termasuk aku juga, karena aku menggunakan dia sebagai penopangku.
"..... aku akan memberimu kehidupan baru. Kehidupan..... kedua. Buatlah perjanjian denganku dan..... jadilah pelayanku.... Binding Resurrection.....!"
Kugunakan kekuatan terakhirku untuk mengubah is Iblis menjadi budakku. Dengan itu, aku pun berhasil lolos dari skenario terburuk.
.... ah, sial. Aku tak bisa bergerak. Semuanya terasa sakit. Aku sudah kehilangan banyak darah hingga aku hampir tak bisa membuka mata. Ini dingin.
Kematian datang menjemputku...... aku bersyukur...... mungkin.
Aku menang melawan seseorang yang lebih kuat dariku. Aku meraih kemenangan dengan memberikan semua yang kupunya, berpikir dengan hati-hati, dan menggunakan semua yang kubisa.
Aku mungkin hampir mati sekarang.... tapi aku masih merasa bangga.
..... mari puji Hamakaze saat aku hidup kembali.
Merasa bangga pada diriku sendiri untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku pun mati.
Sekali lagi, kami berada di pintu itu lagi.
Rantai yang menyegel pintunya pun sudah tak ada lagi, tapi pintunya tertutup, serupa dengan Rumah Monster di lantai 51, memberitahuku kalau ini adalah ruangan penting.
Seperti yang kuduga.
Kabut masih keluar dari celah di sekitar pintu, seakan waktu berputar kembali untuk ruangan ini.
Yang jelas, saat ini aku mempunyai seorang budak Pahlawan, Hamakaze dan High Wulve Satu dan Dua.
"High Wulf Satu dan Dua, segera lompatlah ke ruangan begitu pintunya terbuka. Hamakaze, lindungilah aku dengan nyawamu"
Kuberikan perintah pada budak-budakku menggunakan Absolute Command .
Kami harus melakukan sesuatu terhadap kabut itu, sehingga aku bisa melancarkan serangan. Akan tetapi, apa pun yang berada di sana takkan membiarkanku untuk melakukannya.
Berdasarkan apa yang dikatakan Hamakaze, makhluk itu tak mengejar kami saat dia berlari. Aku yakin bukan karena ia tak bisa melakukannya.
Bagian-bagian tubuhku yang terpotong, semuanya masuk ke dalam ruangan itu.
Bukan berarti separuh bagian bawahku tak terpotong sejak aku mati. Apa pun yang berada di dalam ruangan itu takkan bisa mengerahkan kekuatannya karena itu berada di luar ruangan.
Kalau memang benar begitu, selama aku menyerang dari luar ruangan, aku seharusnya mampu melakukannya dengan sangat aman.
Kujelaskan perkiraanku pada Hamakaze saat kami memeroleh kedua High Wulves ini.
Dia setuju denganku, bahkan sampai memohon untuk tetap berada di sampingku untuk berjaga-jaga.
Dan kami pun tiba di sini.
".... Daichi"
"Kali ini, aku akan membunuhnya menggunakan Berserk Tempest. Kau harus sepenuhnya berkonsentrasi untuk melindungiku"
"..... Baik"
Hamakaze pun mempersiapkan belatinya dan segera mempersiapkan diri untuk melafalkan sihir Wind saat aku berdiri dengan menggunakan Berserk Tempest .
"Sekarang, Hamakaze! Buka pintunya!"
"Baik!"
Hamakaze pun membukakan pintunya.
Itu adalah pertanda untuk memulai pertarungan kematian.
"Satu! Pergi!"
"Guoooh!!"
Serigala perak yang melolong pun melompat ke ruangan kematian.
" GUOOOOW!!"
Teriakan yang ganas membenamkan lolongannya High Wulf. Aku belum melihatnya, tapi aku ingat suara itu.
Dari bayangan besarnya saja sudah cukup untuk memberitahuku kalau itu ada di sana.
" GUOOOH!!"
High Wulf ditebas oleh ayunan pedang sadis yang bahkan tak bisa kulihat.
Bersamaan dengan itu, High Wulf Dua pun berlari.
Dan pada saat itu juga, aku menembakkan sihirku.
" Berserk Tempest !"
Amukan angin kencang pun meledak keluar dari tanganku. Kabut pun tersingkirkan saat itu menyembur ke luar dari ruangan dan sekitar kami.
" Wind!"
Hamakaze, tak ingin penglihatan kami terhalang oleh kabut, memisahkan kabutnya ke kiri dan kanan kami.
Selama saat itu, aku terus melihat ke dalam ruangan.
Ada suara dentangan logam.
Seluruh tubuh High Wulf pun tersayat dengan bersih.
Kabut menghilang, aku pun bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalam ruangan itu.
Saat kabutnya benar-benar hilang—aku membelalakkan mataku.
Bayangan besar itu hanyalah sebuah ilusi.
Itu adalah seorang wanita yang mengenakan jubah hitam.
Angin mengibaskan tudungnya, aku pun melihat mata merah darah dan rambutnya.
Tebakan Hamakaze sedikit meleset.
Itu bukanlah mansuia, melainkan humanoid.
".... Serius, kau pasti bercanda, ‘kan?"
".... Tidak mungkin....."
Di dunia asalku, bahkan itu adalah sesuatu yang melegenda.
Perwujudan dari ketakutan. Sebuah pedang berdarah. Kulit merah. Mata merah menyala. Dua tanduk yang tumbuh dari kepalanya.
Yah, memang itu.
Iblis.
"Ini adalah kali kedua kita bertemu bukan, Pahlawan?"
Senyuman permusuhannya menunjukkan taringnya yang tajam.
Naluriku bilang kalau dia berbahaya.
Dia melepaskan perasaan haus darah yang sama dengan wanita itu.
Seseorang yang ahli dalam mengembil nyawa setiap orang yang melihatnya.
Dan kini, ia menatap lurus ke arah kami.
"Hei.... bagaimana kalau kita mulai dengan membunuh?"
Menebas udara, pertarungan kematian pun dimulai.
"Apa?!"
Dugaanku terbukti salah, aku jadi bingung. Yang jelas, aku harus menghindarinya. Walau begitu, Hamakaze tetap berdiri layaknya patung.
Apa perasaan haus darahnya yang membuatnya terdiam......?!
"LOMPAT KE KANAN!!"
Melihatnya yang tak mampu bergerak setelah tertangkap oleh perasaan haus darahnya, aku berteriak sekeras mungkin. Memaksanya bergerak menggunakan Absolute Command , tubuh Hamakaze pun melompat ke kanan seperti yang kuperintahkan.
Tebasan pedang menghantam tembok dungeon, meledakkannya. Temboknya tak hancur, tapi masih terdengar seperti ledakan.
"Kuh!!"
Suaranya sangatlah keras hingga kupikir gendang telingaku bisa meledak, tapi aku lebih mengkhawatirkan gadis yang baru saja ambruk di sampingku.
"Kuatkanlah dirimu, Hamakaze!"
"Maaf, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku!"
Hamakaze tak bisa tenang, dia layaknya anak kecil yang ketakutan.
Sialan, apa dia jadi kacau?
"Tuan Pahlawan kecil ini memang hebat, kau masih waras setelah menerima Devilish Aura -ku ya?"
Dia menyindirku dengan berpura-pura memujiku dari ruangannya.
Sang Iblis pun masih menatap kami dari dalam ruangan.
"Hei, tinggalkanlah si cengeng itu dan kemarilah bermain bersamaku. Menunggu membuatku gila"
"Kau tahu, aku tahu kenapa kau ada di sini, ‘kan? Tempat ini sangatlah penting bagi kalian berdua"
..... Yang benar saja. Dia tahu kenapa kami di sini?
Dia bahkan memanggilku Pahlawan.
"Biar begitu, tak ada alasan bagiku untuk bertarung sendirian"
"Bukan berarti dia akan bisa bertarung lagi. Dia akan terus terjebak seperti itu, Devilish Aura -ku takkan berhenti kecuali kau mengalahkanku"
"..... Kau pikir aku akan menuruti perkataanmu?"
..... apa yang harus kulakukan?
Yang jelas, aku harus mengetahui apa yang teradi pada Hamakaze.
" Open "
Jendela status pun muncul begitu aku mengatakan kata kuncinya. Ada sederetan teks baru mengenai status Hamakaze.
Pengurangan Mana .... jadi serangan mental? Kelihatannya takkan bisa pulih dengan cepat, sungguh kemampuan yang gila....Kondisi Khusus: Mana nilai menurun dengan perbedaan tingkat antara kastor dan target x 100. Apalagi, tidak akan pulih sampai kastor pingsan atau mati.
"Kau memahaminya? Kelihatannya kau tak kehilangan pikiranmu, jadi kau pasti sekuat diriku, ya? Aku ingin kita bertarung murni satu lawan satu "
"Cih....."
Sisa Mana -ku terpotong menjadi seribu. Aku tak bisa menggunakan sihir tingkat kekaisaran.
Jadi aku harus melawanya dengan sihir tingkat roh atau jiwa?
Aku. Sendirian.
"..... Jangan bercanda. Kalau aku melawanmu, aku akan bertarung bersamanya"
"Bersamanya? Dia tidaklah berguna, atau mungkin kau mempunyai suatu rencana?"
Aku terus berbicara untuk mengulur waktu. Aku harus memikirkan cara untuk menghadapinya.
.... suatu rencana, ya. Saat ini, yang bisa kupikirkan hanyalah Revenge of the Grudgebearer .
..... Haruskah aku mati?
Tidak, itu takkan berhasil. Takkan ada orang yang bisa mengambil tubuhku.
Mungkin aku bisa kabur dengan menyuruh Hamakaze menggunakan
Absolute Command ...?
Tidak, tidak mungkin Iblis ini akan membiarkannya.
Kalau Hamakaze mati, maka semuanya berakhir. Aku masih bisa hidup lagi, tapi ada banyak kesenjangan waktu antara saat aku hidup kembali dan saat aku sadar. Si Iblis itu mungkin akan terus membunuku selamanya.
Pada akhirnya, tak ada pilihan selain melawannya.
Aku menatap balik si Iblis dan melototinya.
"Hoh, apa akhirnya kau sudah memikirkan sesuatu? Dari tadi aku sudah menunggu di sini, jadi setidaknya pastikanlah untuk membuat ini sedikit menyenangkan, mengerti?"
"Kau bicara seperti bisa membunuhku kapan saja?"
"Tentu saja bisa, karena aku hebat. Bisa kita mulai sekarang?"
"... Ya, ayo kita mulai"
Menampar pipiku, kusemangati diriku.
Aku membawa Hamakaze ke tempat yang terlihat aman terhadap serangan nyasar yang akan mengenainya dan masuk ke ruangannya si Iblis.
Seketika, tubuh merahnya melesat ke arah tubuhku.
"Kuh!"
Aku menyilangkan lenganku dan menahan pukulannya, menurunkan pusat gravitasiku supaya tak terdorong mundur.
"Ooh? Kuat sekali"
"Berkat kau, aku jadi cukup kuat juga"
Mengunci tinjunya, aku pun memutar dan mengangkatnya ke udara.
Sebagian tubuhnya berputar mengikuti lemparan, dia pun mendarat dan menghampiriku dengan pedang di tangan kanannya.
"Cih!"
Dia mengincar kakiku. Dipaksa melepaskan tangannya untuk menghindar, aku tersandung, membuat sikapku hancur. Dia menindaklanjutinya dengan melontarkan sihir.
" Devil Flame!"
"Cepat sekali!"
Mengabaikan mantranya, dia langsung mewujudkan bola berapi dan melontarkannya padaku. Tak bisa menghindarinya, aku langsung terkena serangannya dan terhempaskan ke belakang.
"Gah!!"
Menabrak tembok, seluruh tubuhku terasa sakit.
Tentunya, aku menerima damage karena menghantam tembok, tapi masalah utamanya adalah tubuhku terbakar. Itu jauh lebih panas ketimbang Fireball sebelumnya. Seluruh tubuhku terbakar, tenggorokanku juga terasa terbakar.
"Wahai roh air, berikan aku karuniamu! Water Ball !"
Kugunakan sihir tipe air untuk memadamkan apinya.
"Geh!?"
Masih terbatuk-batuk dan merangkak, aku merasakan tendangan pada tubuhku, melontarkanku ke udara. Benturannya jauh lebih hebat dari yang bisa Samejima lakukan.
Tubuhku terus terbang ke atas.
Lurus menuju ke langit-langit.
"Memangnya aku akan menunggu!"
Dia melancarkan tebasan pedang lainnya padaku.
Aku tak bisa menghindarinya!
"Wahai roh angin, sayatan udara! Wind Slice!"
Setidaknya aku bisa mengurangi kekuatannya dengan membuatnya harus melewati pisau angin terlebih dahulu.
"Gaaah!!"
Mendorong tubuhku sampai pada batasnya, aku memaksakan diri untuk bergerak.
Ujung serangannya menggores pipiku, darah melayang di udara.
Serangannya meleset!
Mendapatkan kesempatan, aku menggunakan gravitasi untuk menjatuhkan diri, dan dengan cepat melancarkan drop - kick padanya.
"Raaaah!"
"Hebat juga! Tapi kau masih terlalu lemah!"
Akan tetapi, dia dengan mudahnya menghentikan seranganku menggunakan satu tangan rampingnya.
"Tidak mungkin!?"
"Rasakan ini!!"
Kakiku mengeluarkan suara yang mengkhawatirkan. Mencengkram kakiku, si Iblis melemparkanku ke tanah.
"Kah....!!?"
Dadaku terasa sakit, aku tak bisa bernapas dengan baik. Kaki kananku patah dan bengkok ke arah yang aneh, tulangku menembus kulit.
Rasa sakit itu menghantamku bagaikan arus yang mengamuk.
"Ahhhhh!!"
"Apa kau ini batu atau sesu—atu!!"
Dia menusukkan pedangnya padaku. Berguling, aku menghindarinya dan berdiri—tapi pada akhirnya terjatuh kembali.
Tepat pada si Iblis.
Kalau..... kalau aku harus merasakan sakit sebanyak ini, cepat....
cepatlah....!
"BUNUH AKU!!"
Tiba-tiba mendengarku yang mengemis untuk kematianku sendiri, si Iblis pun mengerutkan alisnya.
"Diam!"
Dia mencoba menjauhkanku darinya, tapi kumanfaatkan sebaik mungkin apa yang bisa kulakukan dari status
strength -ku yang sangat tinggi dan menempel padanya.
"Cepatlah bunuh! Cepat! Lakukanlah!"
"Ya, tapi menjauhlah dariku brengsek!!"
"Dengan senjatamu! Dengan sihirmu! Cepatlah lakukan!!"
"Dasar bajingan picik!"
Dia mendorong jauh wajahku dengan tangannya dan melancarkan Devil Flame padaku.
Aku bahkan sudah tak peduli lagi dengan seberapa panasnya, aku hanya ingin dia segera membunuhku.
Cepat, sebelum aku..... pingsan.....
Saat itu, aku tak bisa melihat si Iblis. Semua yang kulihat adalah kemampuan baru yang kudapatkan di dungeon.
Meraih jubahnya untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pingsan, aku menempel padanya.
Dasar jalang, ini belum berakhir!
"Tolong, lakukanlah......!"
Dengan mulut yang penuh darah, aku pun meludahkannya seperti mengutuk.
"Ya, dengan senang hati!"
Menanggapinya, dewa kematian di hadapanku mengangkat senjatanya di atas kepala.
Melihat itu, aku pun menyeringai.
"....... Aku menang"
Pedang Iblis pun terhenti.
Dia diserang oleh rasa ketidaknyamanan. Sedikit keheranan.
Ada belati yang keluar dari dadanya.
"B.... Bagaimana....!?"
" Wind!"
Sebuah mantra terselesaikan seolah membenamkan perkataannya, sebuah lubang besar terbuka pada dadanya.
Si Iblis pun meludahkan banyak darah, nyaris tak bisa menopang diri dengan pedangnya.
Apa yang kulihat dari belakang yang mengejutkan si Iblis adalah pemain kunci pertarungan ini.
"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku!"
Budak berambut hitam yang marah dengan belati berdarah di tangannya. Seseorang yang hanya mengikuti perintah yang diberikan padannya, Hamakaze Shuri.
"Sudah kubilang.... bukan? Kalau aku.... akan bertarung, bersamanya....."
Aku pasti sudah mengatakannya. Dalam pertarungan ini, aku tak berniat untuk bertarung sendirian.
Aku sudah berencana untuk bertarung bersama Hamakaze sepanjang waktu ini.
"..... kupikir.... ini pertarungan satu lawan satu........"
Si Iblis meringis kesakitan. Bagaimanapun juga, serangan itu sepertinya memang fatal.
"Memangnya, aku peduli. Selama..... aku bisa menang......"
"Dasar..... brengsek....."
Tanpa bisa menyelesaikannya, dia ambruk tak berdaya ke tanah.
Tentu saja, itu termasuk aku juga, karena aku menggunakan dia sebagai penopangku.
"..... aku akan memberimu kehidupan baru. Kehidupan..... kedua. Buatlah perjanjian denganku dan..... jadilah pelayanku.... Binding Resurrection.....!"
Kugunakan kekuatan terakhirku untuk mengubah is Iblis menjadi budakku. Dengan itu, aku pun berhasil lolos dari skenario terburuk.
.... ah, sial. Aku tak bisa bergerak. Semuanya terasa sakit. Aku sudah kehilangan banyak darah hingga aku hampir tak bisa membuka mata. Ini dingin.
Kematian datang menjemputku...... aku bersyukur...... mungkin.
Aku menang melawan seseorang yang lebih kuat dariku. Aku meraih kemenangan dengan memberikan semua yang kupunya, berpikir dengan hati-hati, dan menggunakan semua yang kubisa.
Aku mungkin hampir mati sekarang.... tapi aku masih merasa bangga.
..... mari puji Hamakaze saat aku hidup kembali.
Merasa bangga pada diriku sendiri untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku pun mati.
The Forsaken Hero Chapter 09 Bahasa Indonesia
Chapter 09 : Awal Perang Kematian - Part 3
Setelah beristirahat dengan baik di paha Hamakaze yang lembut, aku duduk di dekat tangga menuju ke lantai lima puluh sembilan.
Dia duduk di hadapanku. Kami berada di dekat tangga sehingga kami dapat melarikan diri jika terjadi situasi tak terduga.
Aku akan meringkas apa yang aku dengar terjadi dari Hamakaze.
Dia meraih bagian bawahku dan berlari. Dia mengatakan bahwa begitu aku meninggal, musuh tidak melanjutkan serangannya.
Dia juga mengatakan bahwa sosok yang membunuhku terlihat serupa dengan manusia.
"Kau yakin itu yang kau lihat?"
"Ya. Daichi, yang membunuhmu bukanlah demon. Itu sama seperti kita. "
Seorang manusia. Di kebanyakan dungeon, itu tidak akan terlalu mengejutkan. Bagaimanapun, ada orang-orang dengan pekerjaan petualang.
Namun, seharusnya tidak ada banyak dari mereka di Rigal Den , apalagi yang ada sejauh lantai enam puluh enam yang belum dijelajahi.
Nah, mari kita asumsikan apa yang Hamakaze katakan sejauh ini benar adanya.
Jika aku harus mengatakan apakah itu membantu situasi kita, aku akan mengatakan tidak.
"Jika itu adalah manusia, mungkin mereka akan membiarkan kau lewat jika kau berbicara dengan mereka?"
"Tidak, aku tidak bisa melihatnya berjalan mulus."
Jika mereka tidak ingin menyerangku karena suatu alasan, aku ragu mereka akan menyerangku dengan permusuhan seperti itu dari pemukul seperti itu.wajar jika kau berhati-hatilah terhadap seseorang yang tidak kau kenal, tapi mereka mendatangiku dengan maksud untuk membunuh sebelum aku memiliki kesempatan untuk melakukan atau mengatakan banyak hal.
"Kurang lebih, aku tak merasa seseorang yang disegel seperti itu akan memiliki sifat baik."
"Ya itu benar."
"Yang jelas, aku berpikir bahwa apapun itu yang membunuhku, akan menjadi penting untuk apa yang terjadi dari sini."
Kekuatan itu tidak normal. Dibandingkan dengan itu, demon-demon yang telah kita lawan sejauh ini belum layak diperhitungkan. Itu sangat berbeda.
"Apa maksudmu?"
"Jika aku bisa mengalahkannya dan menjadikannya sebagai pelayan yang kuat, itu akan membuat kita lebih mudah untuk menaklukkan dungeon. Kau bahkan mungkin bisa mengatakan bahwa saat aku membunuhnya, kita akan menyelesaikan dungeon-nya. "
"Aku ingin tahu apakah dungeon ini ada di sini untuk menyegelnya?"
Hamakaze mengambil pendapatku dan tidak menyangkalnya. Sebaliknya, dia menunjukkan sesuatu yang aku lewatkan.
Sungguh, memiliki orang lain yang bisa menunjukkan hal-hal yang aku lewatkan sangat membantu. Bukannya aku sempurna, hanya orang bodoh yang mengabaikan pemikiran orang lain tentang sesuatu. Budak atau apapun, aku akan menggunakan apa yang bisa aku dapatkan.
"Kedengarannya masuk akal. Bagaimanapun juga, hanya ada satu cara bagi kami untuk pergi. "
Mudah dikatakan, tapi akan sulit untuk diatasi.
Namun, tidak mungkin aku berhenti di sini. Aku harus mengalahkan omong kosong dari Samejima.
"Hamakaze. Bagaimana aku mati? Apa yang membunuhku Katakan apa yang kamu ingat. "
Ketika aku mengatakan itu, Hamakaze membuat sketsa di tanah dengan jari-jarinya, menjelaskannya kepadaku saat dia pergi.
"Dan kemudian kau tiba-tiba jatuh ke tanah seperti batu, Daichi. Setelah itu…"
"Aku mati?"
"Ya. Sisa dari apa yang terjadi adalah apa yang aku katakan tadi. "
Bahwa. Aku tertangkap di sana juga.
Mengapa musuh mengabaikan Hamakaze melakukan itu?
Sebagai orang yang menjemputku, dia seharusnya juga berada dalam jangkauan musuh.
Apakah ada semacam alasan ...?
Aku pasti tidak akan melewatkan kesempatan jika itu aku. Aku pasti akan pergi untuk membunuh.
Mengapa tidak menyerang ... mungkin bukan karena tidak sebanyak yang tidak bisa ?
Ruangan itu ditutup rapat oleh rantai itu. Itu untuk membuatnya sehingga makhluk di dalam ruangan tak bisa lepas.
Tapi Hamakaze bisa dengan mudah menghancurkannya dengan sihirnya.
"... Hah?"
Aku merasakan sesuatu tentang itu.
Jika rantai penyegelan itu cukup lemah untuk dihancurkan oleh sihir peringkat roh, seharusnya bisa melepaskan dirinya sendiri.
Namun tetap saja tidak bisa pergi.
Dengan kata lain, mungkin rantai itu bukan satu-satunya yang menghentikannya dan ada sesuatu yang mencegahnya menggunakan kekuatannya di luar ruangan?
Potongan-potongan itu jatuh pada tempatnya.
"Hamakaze. Dimana tubuhku saat aku mati? "
"Mayatmu? Hanya di dalam pintu masuk ... Kenapa? Apakah kau memikirkannya? "
"... Tidak, ini hanya firasat saja. Ini firasat ... tapi aku merasa seperti itu benar. "
Makhluk itu tidak bisa meninggalkan ruangan. Tidak bisa melakukan apapun di luar ruangan.
Dalam hal ini, aku memiliki banyak strategi yang bisa aku pakai.
"Makhluk itu membunuhku ... aku harus membalasnya, bukan?"
Aku berdiri dan menepuk-nepuk debu dari celanaku. Hamakaze sudah merapikan tubuhnya dan berdiri di sampingku.
"Ayo bunuh monster itu."
"Seperti yang kau inginkan, Daichi."
Kami pindah untuk mengumpulkan barang-barang yang dibutuhkan agar aku bisa menerapkan strategi yang aku buat di kepalaku.
Setelah beristirahat dengan baik di paha Hamakaze yang lembut, aku duduk di dekat tangga menuju ke lantai lima puluh sembilan.
Dia duduk di hadapanku. Kami berada di dekat tangga sehingga kami dapat melarikan diri jika terjadi situasi tak terduga.
Aku akan meringkas apa yang aku dengar terjadi dari Hamakaze.
Dia meraih bagian bawahku dan berlari. Dia mengatakan bahwa begitu aku meninggal, musuh tidak melanjutkan serangannya.
Dia juga mengatakan bahwa sosok yang membunuhku terlihat serupa dengan manusia.
"Kau yakin itu yang kau lihat?"
"Ya. Daichi, yang membunuhmu bukanlah demon. Itu sama seperti kita. "
Seorang manusia. Di kebanyakan dungeon, itu tidak akan terlalu mengejutkan. Bagaimanapun, ada orang-orang dengan pekerjaan petualang.
Namun, seharusnya tidak ada banyak dari mereka di Rigal Den , apalagi yang ada sejauh lantai enam puluh enam yang belum dijelajahi.
Nah, mari kita asumsikan apa yang Hamakaze katakan sejauh ini benar adanya.
Jika aku harus mengatakan apakah itu membantu situasi kita, aku akan mengatakan tidak.
"Jika itu adalah manusia, mungkin mereka akan membiarkan kau lewat jika kau berbicara dengan mereka?"
"Tidak, aku tidak bisa melihatnya berjalan mulus."
Jika mereka tidak ingin menyerangku karena suatu alasan, aku ragu mereka akan menyerangku dengan permusuhan seperti itu dari pemukul seperti itu.wajar jika kau berhati-hatilah terhadap seseorang yang tidak kau kenal, tapi mereka mendatangiku dengan maksud untuk membunuh sebelum aku memiliki kesempatan untuk melakukan atau mengatakan banyak hal.
"Kurang lebih, aku tak merasa seseorang yang disegel seperti itu akan memiliki sifat baik."
"Ya itu benar."
"Yang jelas, aku berpikir bahwa apapun itu yang membunuhku, akan menjadi penting untuk apa yang terjadi dari sini."
Kekuatan itu tidak normal. Dibandingkan dengan itu, demon-demon yang telah kita lawan sejauh ini belum layak diperhitungkan. Itu sangat berbeda.
"Apa maksudmu?"
"Jika aku bisa mengalahkannya dan menjadikannya sebagai pelayan yang kuat, itu akan membuat kita lebih mudah untuk menaklukkan dungeon. Kau bahkan mungkin bisa mengatakan bahwa saat aku membunuhnya, kita akan menyelesaikan dungeon-nya. "
"Aku ingin tahu apakah dungeon ini ada di sini untuk menyegelnya?"
Hamakaze mengambil pendapatku dan tidak menyangkalnya. Sebaliknya, dia menunjukkan sesuatu yang aku lewatkan.
Sungguh, memiliki orang lain yang bisa menunjukkan hal-hal yang aku lewatkan sangat membantu. Bukannya aku sempurna, hanya orang bodoh yang mengabaikan pemikiran orang lain tentang sesuatu. Budak atau apapun, aku akan menggunakan apa yang bisa aku dapatkan.
"Kedengarannya masuk akal. Bagaimanapun juga, hanya ada satu cara bagi kami untuk pergi. "
Mudah dikatakan, tapi akan sulit untuk diatasi.
Namun, tidak mungkin aku berhenti di sini. Aku harus mengalahkan omong kosong dari Samejima.
"Hamakaze. Bagaimana aku mati? Apa yang membunuhku Katakan apa yang kamu ingat. "
Ketika aku mengatakan itu, Hamakaze membuat sketsa di tanah dengan jari-jarinya, menjelaskannya kepadaku saat dia pergi.
"Dan kemudian kau tiba-tiba jatuh ke tanah seperti batu, Daichi. Setelah itu…"
"Aku mati?"
"Ya. Sisa dari apa yang terjadi adalah apa yang aku katakan tadi. "
Bahwa. Aku tertangkap di sana juga.
Mengapa musuh mengabaikan Hamakaze melakukan itu?
Sebagai orang yang menjemputku, dia seharusnya juga berada dalam jangkauan musuh.
Apakah ada semacam alasan ...?
Aku pasti tidak akan melewatkan kesempatan jika itu aku. Aku pasti akan pergi untuk membunuh.
Mengapa tidak menyerang ... mungkin bukan karena tidak sebanyak yang tidak bisa ?
Ruangan itu ditutup rapat oleh rantai itu. Itu untuk membuatnya sehingga makhluk di dalam ruangan tak bisa lepas.
Tapi Hamakaze bisa dengan mudah menghancurkannya dengan sihirnya.
"... Hah?"
Aku merasakan sesuatu tentang itu.
Jika rantai penyegelan itu cukup lemah untuk dihancurkan oleh sihir peringkat roh, seharusnya bisa melepaskan dirinya sendiri.
Namun tetap saja tidak bisa pergi.
Dengan kata lain, mungkin rantai itu bukan satu-satunya yang menghentikannya dan ada sesuatu yang mencegahnya menggunakan kekuatannya di luar ruangan?
Potongan-potongan itu jatuh pada tempatnya.
"Hamakaze. Dimana tubuhku saat aku mati? "
"Mayatmu? Hanya di dalam pintu masuk ... Kenapa? Apakah kau memikirkannya? "
"... Tidak, ini hanya firasat saja. Ini firasat ... tapi aku merasa seperti itu benar. "
Makhluk itu tidak bisa meninggalkan ruangan. Tidak bisa melakukan apapun di luar ruangan.
Dalam hal ini, aku memiliki banyak strategi yang bisa aku pakai.
"Makhluk itu membunuhku ... aku harus membalasnya, bukan?"
Aku berdiri dan menepuk-nepuk debu dari celanaku. Hamakaze sudah merapikan tubuhnya dan berdiri di sampingku.
"Ayo bunuh monster itu."
"Seperti yang kau inginkan, Daichi."
Kami pindah untuk mengumpulkan barang-barang yang dibutuhkan agar aku bisa menerapkan strategi yang aku buat di kepalaku.
Sabtu, 10 Maret 2018
The Forsaken Hero Chapter 08 Bahasa Indonesia
Chapter 08 : Awal Perang Kematian - Part 2
Menjelajahi dengan mengikuti cara mana pun yang paling banyak mengusir demon, akhirnya kita menemukan tempat yang mencurigakan.
Ada pintu metalik yang ditutup rapat secara vertikal dan horizontal dengan rantai.
Ada kabut tak menyenangkan yang bocor dari celahnya.
... ini ... mana?
"Daichi."
Hamakaze sepertinya juga merasakan sesuatu. Dia menatap pintu tertutup dengan rapi.
... Tebak aku akan masuk?
Pasti akan ada musuh yang lebih kuat daripada musuh yang telah kita lawan sejauh ini di sana.
Dan jika kita mengalahkannya, jalan ke lantai berikutnya harus terbuka bagi kita.
Begitulah caranya sejauh ini. Ada demon kuat di setiap kamar terakhir di lantai lima puluh satu sampai lima puluh sembilan. Jika tidak, maka ada perangkap seperti Monster House.
"... Jika aku tidak terus bergerak maju ... aku tidak akan membalas dendamku ..."
Aku mencap bekas-bekas ketakutan yang mungkin muncul dalam pikiranku dengan kebencianku.
"… Bisa kita pergi?"
Aku mengepalkan tinjuku.
"Ya, Daichi."
"Hamakaze, kita akan pergi dengan biasa."
“aku mengerti."
Hamakaze mengangguk.
Aku sedang bersiap, siap pakai Pak Berserk Tempest .
Hamakaze bergegas masuk dengan belati yang dia sukai.
"O 'semangat angin, iris di udara. Irisan angin "
Rantai-rantai itu bergema dengan dengungan logam keras saat mereka terpecah. Segelnya dibatalkan, pintunya mulai terbuka dengan sendirinya.
Aku tidak bisa melihat dengan jelas melalui kabut itu. Dalam hal itu…
"Aku akan menyebarkan kabut ini !!"
Sama seperti celah yang cukup lebar bagi satu orang untuk dilewati, aku berlari di depan pintu masuk.
Yang membuat langkah pertama memutuskan tempo laga. Sebelum pindah ke ruangan, aku pergi untuk membuka pertarungan dengan seorang Berserk Tempest .
Aku mendorong tanganku ke depan bersama dengan jumlah besar mana yang digabungkan bersama sebelum itu.
"Kembalikan semua debu dan kembalikan ke bumi! Berserk Te- "
Namun, aku tidak selesai.
Lenganku melayang-layang di udara.
... ... ... ya?
Lenganku?
Apa?
H-Huh?
Pikiranku tidak bisa mengikuti. Memang terasa rasa sakit itu menyentak tubuhku.
"Gaaaaah !?"
Darah terus menyembur keluar dari tunggulnya.
Rasa sakit yang tak tertahankan menyerang pikiranku.
Ow, sakit, sakit sekali!
Sakit, sakit, sakit-sakit, sakit, sakit, sakit!
"Ugh ...!"
Aku merasa muntah mengisi tenggorokanku. Ketika aku mencoba melawan, aku berlutut dan segera mengosongkan perutku di tanah.
"Hah hah! Ah…"
Penglihatanku kabur, semuanya berkabut.
Apakah aku kehilangan terlalu banyak darah?
Tidak, aku harus berpikir untuk kabur dulu.
Ayo lakukan itu, aku tidak ingin kesakitan seperti ini. Aku akan pergi,dan aku akan menyuruh Hamakaze menyembuhkanku ...!
Saat aku mulai mencoba berdiri tegak, lengan satunya lagi yang kupakai di atas tanah terputus.
...?
"Uh?"
Karena tidak memiliki dukungan apapun dengan kedua tangan sekarang, aku terjatuh ke tanah.
Tubuh bagian atasku masuk sepenuhnya ke dalam ruangan.
Ah, sial ... ... ...
" GUOOOOOOOOH! "
Aku mendengar sesuatu teriak.
Aku mendongak untuk melihat dari mana raungan itu datang dan-
Aku berhenti melihat apapun
Merasa sakit tajam menembus leherku, aku kehilangan kesadaran.
Kegelapan. Hitam. Gelap gulita.
Itulah satu-satunya cara aku bisa menggambarkan tempat ini. Kakiku tidak menyentuh tanah. Aku mengambang. Dan ketika aku mencoba bergerak, aku merasa sangat lamban.
[Aku senang bertemu dengan Anda, Pahlawan.]
Saat aku membalikkan tubuhku ke arah suara, aku melihat seorang wanita.
Aku tidak bisa melihat sebagian besar wajahnya karena rambut hitamnya yang panjang menutupiinya. Entah kenapa, dia berdiri dalam kegelapan ini. Dia mengenakan gaun hitam pekat.
Dia meraih tangannya dan melangkah sedikit lebih dekat.
Pada saat itu, terjadi perubahan dalam dirinya.
Hawa haus yang panas mengalir keluar darinya, wanita itu mengangkat ujung mulutnya.
[Selamat datang di rumah ... dan hati-hati.]
Keringat dingin melanda tubuhku. Kepalaku memberitahuku bahwa aku harus melarikan diri, bahwa aku perlu lari darinya.
Tapi aku tidak bisa bergerak. Aku menahan diri seperti aku diikat.
"Siapa-siapa kau !?"
Aku nyaris tidak berhasil mengeluarkan pertanyaan itu.
Dia mengabaikannya.
Dia hanya terus tersenyum. Aku tidak hanya bisa melihat senyumnya itu sebagai iblis gila.
Selangkah demi selangkah, dia mendekatiku.
[Mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati , mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati banyak!]
"T-tidak !!"
Tubuhku langsung merespon untuk diberitahu untuk mati.
Mengapa aku harus mengalami rasa sakit yang buruk?
Mengapa aku satu-satunya yang harus melalui sesuatu yang begitu menyiksa !?
Tubuhku mengabaikan apa yang aku katakan untuk dilakukan dan menolak untuk bergerak seincipun.
Pindah!
Tolong, pindah !!
Pindahkan, sialan kamu !!
[Mati.]
Pada saat itu, jari-jarinya yang ramping dan putih salju menggenggam leherku-
"Tidak ada apa-apa !!"
"Kyaaa !?"
"-!"
Aku melompat ke arah suara gadis itu. Dengan mengangkatnya, aku mendorong telapak tanganku ke atas kepalanya.
Jika aku tidak membunuhnya, aku akan dibunuh!
Bahkan jika aku harus menggunakan semua manaku, aku akan menyelesaikan ini!
"O 'semangat angin, iris di udara!"
"Daichi !!"
"-Hah?"
Mendengar namaku dipanggil tepat sebelum aku menyelesaikan mantra, aku berhenti.
Saat mencabut tanganku, aku melihat wajah yang kukenal.
"... Hamakaze?"
Bukan wanita itu.
Itu adalah hambaku, Hamakaze Shuri.
"Iya ... aku Daichi Hamakaze Shuri."
"T-tidak mungkin Kamu palsu Maksudku, kau baru saja akan membunuhku ... "
Aku bisa mengingatnya dengan jelas.
Seorang wanita misterius mencengkeram leherku ...
Tapi pemandangannya berbeda, aku berada di dalam ruang bawah tanah. Bahkan tembok bobrok kencang pun persis seperti yang kuingat pada mereka.
Apa yang sedang terjadi…!?
Siapa yang aku bunuh? Siapa yang mencoba membunuhku? Siapa yang akan membunuh siapa ...?
"Tolong tenanglah, Daichi."
Suara Hamakaze menarikku keluar dari kebingunganku dan kembali menjadi kenyataan.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu bingung, tapi tolong tenanglah."
Melihatku tersesat dan bingung, Hamakaze meremas tanganku.
Kehangatan dan suaranya yang lembut menyelimuti pikiranku dan membersihkan kebingunganku, mengungkap emosi kusutku.
Saat kepalaku bersih, aku mulai mengatur apa yang terjadi secara sepotong demi sepotong.
Napas kasarku perlahan juga tenang.
"... Daichi ... apa kamu baik-baik saja?"
"I-iya ..."
"Sangat? Untunglah…"
Hamakaze tampak lega.
Itu menunjukkan betapa abnormalnya aku beberapa saat yang lalu.
Sialan ... aku tersapu oleh ketakutan akan kematianku?
"Um ... Daichi?"
"Apa?"
"Jika ... jika kau mau, aku baik-baik saja dengan terus ..."
"Oh."
Aku masih di atas Hamakaze. Posisinya meninggalkan payudaranya yang digariskan dengan jelas melalui bajunya.
Aku menyadari apa yang keluar .
"T-tidak, bukan itu yang aku lakukan. Aku akan turun. Beri aku sedikit waktu. "
Dipulihkan dari kebingunganku, aku ingin memverifikasi sesuatu.
Masih ada kemungkinan dia adalah seorang penipu.
"Buka."
Apa yang tertulis pasti ada Hamakaze Shuri.
Statistikku juga naik. Keterbatasan Lich King meningkat menjadi tiga orang.
Lebih penting lagi, counter kematianku naik menjadi enam.
Dengan kata lain, ini bukan mimpi atau halusinasi, inilah dunia ... setelah aku terbunuh di pintu-pintu itu.
Semuanya nyata ...
"... ... Hah ..."
Santai, aku terjatuh ke samping ke lantai.
Rasa aman memenuhiku sekaligus, aku kehilangan semua jejak ketegangan.
"Apa yang salah!?"
Tanya Hamakaze panik.
"Aku hanya sedikit lelah."
"T-tapi ..."
"Jangan khawatir ... biarkan aku tidur sebentar ... aku benar-benar ... tidak bisa ..."
Karena tidak dapat menahan gelombang kantuk yang menyerangku tertidur.
Menjelajahi dengan mengikuti cara mana pun yang paling banyak mengusir demon, akhirnya kita menemukan tempat yang mencurigakan.
Ada pintu metalik yang ditutup rapat secara vertikal dan horizontal dengan rantai.
Ada kabut tak menyenangkan yang bocor dari celahnya.
... ini ... mana?
"Daichi."
Hamakaze sepertinya juga merasakan sesuatu. Dia menatap pintu tertutup dengan rapi.
... Tebak aku akan masuk?
Pasti akan ada musuh yang lebih kuat daripada musuh yang telah kita lawan sejauh ini di sana.
Dan jika kita mengalahkannya, jalan ke lantai berikutnya harus terbuka bagi kita.
Begitulah caranya sejauh ini. Ada demon kuat di setiap kamar terakhir di lantai lima puluh satu sampai lima puluh sembilan. Jika tidak, maka ada perangkap seperti Monster House.
"... Jika aku tidak terus bergerak maju ... aku tidak akan membalas dendamku ..."
Aku mencap bekas-bekas ketakutan yang mungkin muncul dalam pikiranku dengan kebencianku.
"… Bisa kita pergi?"
Aku mengepalkan tinjuku.
"Ya, Daichi."
"Hamakaze, kita akan pergi dengan biasa."
“aku mengerti."
Hamakaze mengangguk.
Aku sedang bersiap, siap pakai Pak Berserk Tempest .
Hamakaze bergegas masuk dengan belati yang dia sukai.
"O 'semangat angin, iris di udara. Irisan angin "
Rantai-rantai itu bergema dengan dengungan logam keras saat mereka terpecah. Segelnya dibatalkan, pintunya mulai terbuka dengan sendirinya.
Aku tidak bisa melihat dengan jelas melalui kabut itu. Dalam hal itu…
"Aku akan menyebarkan kabut ini !!"
Sama seperti celah yang cukup lebar bagi satu orang untuk dilewati, aku berlari di depan pintu masuk.
Yang membuat langkah pertama memutuskan tempo laga. Sebelum pindah ke ruangan, aku pergi untuk membuka pertarungan dengan seorang Berserk Tempest .
Aku mendorong tanganku ke depan bersama dengan jumlah besar mana yang digabungkan bersama sebelum itu.
"Kembalikan semua debu dan kembalikan ke bumi! Berserk Te- "
Namun, aku tidak selesai.
Lenganku melayang-layang di udara.
... ... ... ya?
Lenganku?
Apa?
H-Huh?
Pikiranku tidak bisa mengikuti. Memang terasa rasa sakit itu menyentak tubuhku.
"Gaaaaah !?"
Darah terus menyembur keluar dari tunggulnya.
Rasa sakit yang tak tertahankan menyerang pikiranku.
Ow, sakit, sakit sekali!
Sakit, sakit, sakit-sakit, sakit, sakit, sakit!
"Ugh ...!"
Aku merasa muntah mengisi tenggorokanku. Ketika aku mencoba melawan, aku berlutut dan segera mengosongkan perutku di tanah.
"Hah hah! Ah…"
Penglihatanku kabur, semuanya berkabut.
Apakah aku kehilangan terlalu banyak darah?
Tidak, aku harus berpikir untuk kabur dulu.
Ayo lakukan itu, aku tidak ingin kesakitan seperti ini. Aku akan pergi,dan aku akan menyuruh Hamakaze menyembuhkanku ...!
Saat aku mulai mencoba berdiri tegak, lengan satunya lagi yang kupakai di atas tanah terputus.
...?
"Uh?"
Karena tidak memiliki dukungan apapun dengan kedua tangan sekarang, aku terjatuh ke tanah.
Tubuh bagian atasku masuk sepenuhnya ke dalam ruangan.
Ah, sial ... ... ...
" GUOOOOOOOOH! "
Aku mendengar sesuatu teriak.
Aku mendongak untuk melihat dari mana raungan itu datang dan-
Aku berhenti melihat apapun
Merasa sakit tajam menembus leherku, aku kehilangan kesadaran.
◆ ◆ ◆
Kegelapan. Hitam. Gelap gulita.
Itulah satu-satunya cara aku bisa menggambarkan tempat ini. Kakiku tidak menyentuh tanah. Aku mengambang. Dan ketika aku mencoba bergerak, aku merasa sangat lamban.
[Aku senang bertemu dengan Anda, Pahlawan.]
Saat aku membalikkan tubuhku ke arah suara, aku melihat seorang wanita.
Aku tidak bisa melihat sebagian besar wajahnya karena rambut hitamnya yang panjang menutupiinya. Entah kenapa, dia berdiri dalam kegelapan ini. Dia mengenakan gaun hitam pekat.
Dia meraih tangannya dan melangkah sedikit lebih dekat.
Pada saat itu, terjadi perubahan dalam dirinya.
Hawa haus yang panas mengalir keluar darinya, wanita itu mengangkat ujung mulutnya.
[Selamat datang di rumah ... dan hati-hati.]
Keringat dingin melanda tubuhku. Kepalaku memberitahuku bahwa aku harus melarikan diri, bahwa aku perlu lari darinya.
Tapi aku tidak bisa bergerak. Aku menahan diri seperti aku diikat.
"Siapa-siapa kau !?"
Aku nyaris tidak berhasil mengeluarkan pertanyaan itu.
Dia mengabaikannya.
Dia hanya terus tersenyum. Aku tidak hanya bisa melihat senyumnya itu sebagai iblis gila.
Selangkah demi selangkah, dia mendekatiku.
[Mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati , mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati banyak!]
"T-tidak !!"
Tubuhku langsung merespon untuk diberitahu untuk mati.
Mengapa aku harus mengalami rasa sakit yang buruk?
Mengapa aku satu-satunya yang harus melalui sesuatu yang begitu menyiksa !?
Tubuhku mengabaikan apa yang aku katakan untuk dilakukan dan menolak untuk bergerak seincipun.
Pindah!
Tolong, pindah !!
Pindahkan, sialan kamu !!
[Mati.]
Pada saat itu, jari-jarinya yang ramping dan putih salju menggenggam leherku-
◆ ◆ ◆
"Tidak ada apa-apa !!"
"Kyaaa !?"
"-!"
Aku melompat ke arah suara gadis itu. Dengan mengangkatnya, aku mendorong telapak tanganku ke atas kepalanya.
Jika aku tidak membunuhnya, aku akan dibunuh!
Bahkan jika aku harus menggunakan semua manaku, aku akan menyelesaikan ini!
"O 'semangat angin, iris di udara!"
"Daichi !!"
"-Hah?"
Mendengar namaku dipanggil tepat sebelum aku menyelesaikan mantra, aku berhenti.
Saat mencabut tanganku, aku melihat wajah yang kukenal.
"... Hamakaze?"
Bukan wanita itu.
Itu adalah hambaku, Hamakaze Shuri.
"Iya ... aku Daichi Hamakaze Shuri."
"T-tidak mungkin Kamu palsu Maksudku, kau baru saja akan membunuhku ... "
Aku bisa mengingatnya dengan jelas.
Seorang wanita misterius mencengkeram leherku ...
Tapi pemandangannya berbeda, aku berada di dalam ruang bawah tanah. Bahkan tembok bobrok kencang pun persis seperti yang kuingat pada mereka.
Apa yang sedang terjadi…!?
Siapa yang aku bunuh? Siapa yang mencoba membunuhku? Siapa yang akan membunuh siapa ...?
"Tolong tenanglah, Daichi."
Suara Hamakaze menarikku keluar dari kebingunganku dan kembali menjadi kenyataan.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu bingung, tapi tolong tenanglah."
Melihatku tersesat dan bingung, Hamakaze meremas tanganku.
Kehangatan dan suaranya yang lembut menyelimuti pikiranku dan membersihkan kebingunganku, mengungkap emosi kusutku.
Saat kepalaku bersih, aku mulai mengatur apa yang terjadi secara sepotong demi sepotong.
Napas kasarku perlahan juga tenang.
"... Daichi ... apa kamu baik-baik saja?"
"I-iya ..."
"Sangat? Untunglah…"
Hamakaze tampak lega.
Itu menunjukkan betapa abnormalnya aku beberapa saat yang lalu.
Sialan ... aku tersapu oleh ketakutan akan kematianku?
"Um ... Daichi?"
"Apa?"
"Jika ... jika kau mau, aku baik-baik saja dengan terus ..."
"Oh."
Aku masih di atas Hamakaze. Posisinya meninggalkan payudaranya yang digariskan dengan jelas melalui bajunya.
Aku menyadari apa yang keluar .
"T-tidak, bukan itu yang aku lakukan. Aku akan turun. Beri aku sedikit waktu. "
Dipulihkan dari kebingunganku, aku ingin memverifikasi sesuatu.
Masih ada kemungkinan dia adalah seorang penipu.
"Buka."
Katsuragi Daichi
Pekerjaan: Hero Lv. 46
Stamina: 3100
Mana: 3240
Kekuatan: 4080
Perlawanan: 3400
Keluwesan: 2130
Kemampuan Khusus:
- [Heart of Steel] Nilai resistansi ganda selama pertarungan. Mencegah keracunan, kelumpuhan, hipnosis, dan korupsi mental 1/3 dari waktu.
- [Indomitable Mentalitas] Mana tidak bisa di bawah 100.
- [Absolute Command] Muncul pada mereka yang dihidupkan kembali oleh Raja Lich yang diratakan rendah. Perintah apapun yang diterima oleh budak akan diikuti sampai otorisasi dihentikan.
- [Magus of Slaughter] Kerusakan yang ditimbulkan pada musuh juga akan merusak spesies lain dalam radius 10 meter.
- [Lich King] Mampu membentuk kontrak dengan makhluk yang telah meninggal, menghidupkan kembali mereka dan membungkuk sesuai kehendak Anda. Setiap saat pengguna meninggal, mendapatkan slot.
- Saat ini: 2 Buka Slot
Kemampuan unik:
- [Revenge of the Grudgebearer] Tidak peduli berapa kali Anda mati, kumpulkan kekuatan dari jurang maut dan bangkit kembali.
- Saat ini: 6 Kematian
Hamakaze Shuri
Pekerjaan: High-Grade Slave Lv. 57
Stamina: 2000
Mana: 1750
Kekuatan: 1900
Resistansi: 100
Keluwesan: 980
Kemampuan Khusus:
- [Auto Heal] Pulihkan 300 Stamina setiap 10 menit.
- [Loyalitas] Bila kehidupan master terancam, semua statistik meningkat menjadi 150%.
Kondisi khusus:
- [High-Grade Slave] Guru: Katsuragi Daichi. Setiap serangan terhadap tuanmu, Katsuragi Daichi, diblokir. Pakai ketaatan sampai dilepaskan.
Apa yang tertulis pasti ada Hamakaze Shuri.
Statistikku juga naik. Keterbatasan Lich King meningkat menjadi tiga orang.
Lebih penting lagi, counter kematianku naik menjadi enam.
Dengan kata lain, ini bukan mimpi atau halusinasi, inilah dunia ... setelah aku terbunuh di pintu-pintu itu.
Semuanya nyata ...
"... ... Hah ..."
Santai, aku terjatuh ke samping ke lantai.
Rasa aman memenuhiku sekaligus, aku kehilangan semua jejak ketegangan.
"Apa yang salah!?"
Tanya Hamakaze panik.
"Aku hanya sedikit lelah."
"T-tapi ..."
"Jangan khawatir ... biarkan aku tidur sebentar ... aku benar-benar ... tidak bisa ..."
Karena tidak dapat menahan gelombang kantuk yang menyerangku tertidur.
Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 60 Bahasa Indonesia
Arc 8 : Negara Suci Ishen
Chapter 60 : Permata Keabadian dan Berdo’a
Setelah menghancurkan sihir penghalang yang ada pada jizou, aku mencari para prajurit demon pada layar peta smartphone . Baiklah, sepertinya itu bekerja, aku bisa mencari mereka sekarang. Kemudian, aku mengunci semua prajurit demon.
“O-oi, apa itu.......!?”
Menutupi langit malam, ada lingkaran sihir kecil dari [Multiple], dan Yamagata-ossan terlihat kagum. Sambil melihat itu, Rin bertanya.
“Kau akan melakukan itu?”
“Aku pikir itu akan menjadi pilihan yang terbaik untuk menyingkirkan para pengganggu, bukan? Itu akan merepotkan, jika kita terkepung saat melakukan teleportasi ke sana.”
Aku mengangkat tanganku ke langit dan mengkonsentrasikan sihir untuk mengaktifkan lingkaran sihir [Multiple]
[Keluarlah cahaya ~ Tombak suci yang bersinar; Shining Javelin!]
Hujan cahaya berjatuhan. Itu bersinar terang dengan indah pada kegelapan, itu seperti hujan meteor. Namun, aku tidak pernah berpikir bahwa itu akan menyebabkan dampak dan getaran menjadi seperti ini, di mana mereka semua terjatuh. Tombak cahaya terjatuh di sekitar rumah besar, dan para prajurit demon pun hancur. Apakah itu di dalam atau di luar, cahaya itu jatuh terlepas tanpa menghiraukannya. Ini gawat..... Aku tidak pernah menduga akan menjadi seperti itu. Tak lama setelah hujan cahaya mereda, ada sebuah teriakan “Serang, serang!” dari prajurit musuh yang bisa didengar, dan sama seperti sebelumnya, aku juga menargertkan [Prajurit musuh Takeda] dan menggunakan [Paralyze] pada mereka, dan dengan cepat mereka semua terjatuh.
“Baiklah, ayo kita pergi”
“Oi.... apakah semua yang terjadi tadi adalah perbuatanmu?”
Menggelengkan kepalanya secara perlahan, Baba-jiisan membuka dan menutup mulutnya. Kedua orang yang lainnya mulutnya terbuka , tapi tidak bisa mengatakan apa-apa, dan tidak lama kemudian, mereka akhirnya mulai mengerluarkan suara mereka.
“Itu...... Benar-benar tak terduga.........”
“Oi, Oi, apakah kau juga melakukannya kepada Kanjou?”
Karena aku telah menargetkan [Prajurit musuh Takeda], mungkin Kanjou juga termasuk dalam pencarian itu. Tapi, aku yakin bahwa dia mungkin masih selamat. Aku menggunakan [Paralyze] pada mereka, tapi tidak benar-benar bekerja pada orang-orang yang mempunyai kemampuan sihir yang tinggi.
“Kanjou mungkin baik-baik saja. Sekarang, mari kita segera menyelesaikan ini”
Aku membuka [Gate] ke daerah bagian dalam, di mana Kanjou berada. Aku keluar dari cahaya gerbang dan muncul di sebuah taman yang luas di perkebunan, dan ada seseorang bermata satu sedang berdiri. Prajurit Takeda yang berada di sekitarnya yang berada di atas tanah tidak bisa bergerak. Di sekitarnya ada api unggun, di mana bayangan bergerak di sekitar orang yang mengenakan penutup mata yang tiba-tiba muncul sambil menatap kami.
“Aku mengerti. Aku bertanya-tanya, siapa yang telah melakukan semua ini, dan ternyata itu adalah ke-4 raja, ‘kah? Yah, ini adalah sebuah kejutan. Hanya saja, bagaimana kalian melakukannya?”
“Tidak ada yang perlu kami katakan kepada orang brengsek sepertimu, cepat mati saja sana!”
Menyiapkan large sword-nya, dan secara tiba-tiba Yamagata meneyerang Kanjou, bertujuan untuk menusuknya. Tung- dia cepat sekali! Itu terlihat seperti serangan Yamagata Masakage itu akan memotong kepala Kanjou. Namun, ada seorang prajurit yang mengenakan armor yang berada di dekatnya, yang datang untuk menangkis serangannya.
“Na!?”
Itu adalah orang dengan rambut putih yang berantakan, yang terbungkus dengan helm dengan armor yang berwarna merah, yang telah menangkis serangan dengan seluruh kekuatannya. Itu adalah topeng demon. Tingginya sekitar 2 meter, dengan ototnya yang besar. Orang ini...... mungkinkah dia......
“Oyakata-sama”
Sebuah suara, berasal dari ketegangan Baba-jiisan, aku juga berpikir begitu, karena aku melihat kembali pada prajurit dengan armor merah. Itu adalah Takeda Shingen. Mantan pemimpin Takeda. Sekarang dia hanyalah boneka.
“Kanjou, brengsek kau! Kau menggunakan Oyakata-sama sebagai perisaimu!?”
“Perisai? Oyakata-sama hanya ingin melindungiku saja. Tapi, sepertinya persenjataannya masih kurang, jadi aku minta maaf. Mari kita panggil penggantinya.”
Kanjou mengumpulkan sihir di sekelilingnya, dan lingkaran sihir yang besar muncul di tengah taman. Ini...... sihir atribut kegelapan,
summoning!?
[Kegelapan keluarlah, jadilah prajurit yang aku inginkan; Skeleton Warrior]
Dari lingkaran sihir, muncul skeleton yang dilengkapi dengan pedang yang melengkung di tangan kanannya, dan sebuah perisai yang bundar pada tangan kirinya. Dia benar-benar spesialisasi mayat hidup.
[Blade mode]
Aku mengeluarkan Brunhild dan menembakannya, kemudian aku mengubahnya menjadi long-sword . Sama seperti itu, aku menyerang dan memotong para skeleton. Namun, skeleton yang seharusnya telah terpotong, secara perlahan mulai bergerak lagi, tubuhnya bersatu kembali. Tulang belakang yang seharusnya sudah hancur, menyatu kembali, dan mereka berdiri untuk menyerang. Uo!?
[Cahaya keluarlah, duo cahaya yang bersinar; Light Arrow]
Dari suatu tempat, Rin melaflakan sihir cahaya untuk menyerang skeleton. Saat itu, skeleton menjadi hancur berantakan, dan tidak bergerak lagi. Itu tidak menyatu kembali.
“Kau tahu, mayat hidup lemah terhadap atribut cahaya, bukan? Jika cuma memotongnya saja, hanya akan membuang-buang waktu”
Oh, itu benar. Aku merubah kembali Brunhild ke mode-pistol dan mengisikannya peluru, tentu saja, aku menggunakan peluru cahaya. Kemudian, cahaya yang menyilaukan keluar dari letusan pistol, dan kemudian kepala skeleton itu menjadi debu, dan berhenti bergerak. Aku melihat ke sekitar, dan Tsubaki-san, Baba-jiisan, dan Naitou-san telah memotong skeleton satu demi satu, tapi sepertinya tidak peduli berapa banyak mereka memotongnya, skeleton itu terus bangkit kembali.
“Merepotkan. Aku akan menghabisi mereka semua sekaligus”
Rin melepaskan sihir, dan formasi sihir muncul di bawah kakinya. Itu memperluas sampai membungkus seluruh taman.
[Cahaya keluarlah, bersinar teranglah cahaya pengasingan; Banish]
Saat Rin selesai melafalkan mantra, skeleton yang berada di taman hancur ke dalam cahaya dan menghilang. Apa itu? seperti yang diharapkan dari Klan Fairy yang hebat dalam sihir.
“Ku, sihir pemurnian, ‘kah? Kerja bagus, tapi....”
Prajurit dengan armor merah masih menghalangi dan melindungi Kanjou. Pedang Yamagata-ossan tertahan saat menghadapinya.
“Oyakata-sama! Minggirlah!”
“Fufufu, percuma saja. Oyakata-sama membelaku. Kau tidak akan bisa meletakan pedangmu padaku jika masih terus seperti itu pada Oyakata-sama. Jadi—”
Kata-kata Kanjou tersela *Bakin!* dan topeng Shingen retak. Itu sepertinya menyusahkan, jadi aku menembaknya dengan pistol.
“Na!?”
Kanjou terkejut, dan dia melihat sekilas pada Shingen yang telah terjatuh oleh Brunhild ku.
“Bocah, kau.....”
“Aku tidak butuh bantuamu”
“Yah, tapi..... pikirkan juga perasaan kami.....”
Baba-jiisan dan Natou-san menatapku dengan mata kagum, tapi meski kau berkata begitu, itu hanya akan membuatku susah.
“Fu, fufufu, itu cukup bagus bukan? Tapi, aku masih punya ini!”
Kanjou melepaskan penutup mata kirinya. Di balik itu, ada mata merah yang terang, bukan, tapi sebuah bola yang terpasang pada matanya. Itu mengeluarkan cahaya yang menakutkan dan bersinar dengan seram seolah-olah itu berdenyut. Mungkinkah itu adalah [Harta Permata]?
“Selama aku punya [Permata Keabadian] ini, aku tidak akan pernah mati! Bahkan jika aku memenggal kepalaku, itu akan meregenerasi kembali dalam waktu yang singkat!”
“Jadi permata itu yang telah memberikan prajurit topeng demon kekuatan yang abadi?”
“Benar sekali. Ini menyulitkan karena hanya dapat menerima perintah sederhana dari jarak jauh, tapi ini adalah [Artifact] yang menakjubkan karena memberikan pemiliknya penuh dengan sihir dan keabadiaan!”
Kanjou menjawab pertanyaa Rin dengan penuh kebanggan. Jadi semua itu adalah penyebabnya?
“Araaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”
Yamagata memotong tubuh Kanjou dengan pedangnya. Serangan itu menyerang melalui seluruh tubuh dan keluar dari lengan kanan orang itu, lengan yang jatuh berubah menjadi kabut abu-abu dan tersebar, lengan yang baru kemudian muncul pada bahu Kanjou.
“Naaaaaa!”
“Percuma saja! Tidak peduli berapa banyak kau memotongnya, itu akan meregenerasi lagi. Selama aku memiliki permata ini!”
[Aport]
Aku menarik benda bulat itu kepada diriku sendiri. Dengan kata lain, jika tidak ada permata, maka dia tidak akan bisa meregenerasi lagi. Itu terbang menjauh dari Kanjou seperti sebuah bola merah yang bersinar, dan terbang ke arahku, aku kemudian menangkapnya.
“Na!?”
Kanjou menjatuhkan dirinya sendiri dan menyentuh mata kirinya dengan tangannya. Tentu saja tidak ada permata di sana.
“Brengsek, sejak kapan kau!?”
“Perkataanmu tidak bagus kau tahu, itu bukan sihir atribut?”
“Ah, ini adalah [Aport], sesuatu yang dapat menarik benda-benda kecil ke arah dirimu sendiri. Ini benar-benar berguna di saat-saat seperti ini”
Rin tiba-tiba mengambilnya dan melihat permata yang ada di tanganku, matanya menyipit saat melihat itu. Dia melihatnya lagi dengan lebih teliti. Itu kotor, kau tahu?
“Hmph, ini tidak bagus. Menyerap energi negatif dan kutukan pada hati pemiliknya yang membuatnya menjadi tidak murni. Ini mirip dengan menempatkan kutukan kepada dirimu. Ini adalah alasan dia menjadi sangat aneh. Hati yang bersih adalah gangguan untuk mengendalikan mayat hidup, jika kau memikirkannya itu cukup masuk akal.”
“Kau sepertinya memahaminya dengan cukup baik”
“Jangan meremehkan Klan Fairy”
Fufun, dan Rin kemudian membusungkan dadanya dengan bangga. Seperti yang diharapkan dari Kepala Klan Fairy. Aku terkadang lupa dengan itu.
“ [Artifact] adalah barang sihir dari peradaban kuno. Itu adalah barang yang sangat berharga, tapi karena diberikan dari orang ke orang, itu kemudian menyerap kebencian dan menjadi sebuah malapetaka. Jadi akan lebih baik untuk menghancurkannya”
Setelah berkata begitu, Rin menggenggam permata pada tangan kanannya dan melakukan wind-up (posisi sebelum melempar bola) ke arah dinding.
“Apa yang kau lakukan!? Hentikan itu!!”
“Tidak mau”
Kanjou berteriak putus asa, dan Rin menanggapinya dengan senyuman jahatnya. Orang ini benar-benar suka untuk melakukan apa yang orang lain benci........ Dia melemparkannya ke dinding batu sekeras yang dia bisa, dan itu hancur berkeping-keping.
“Ugaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!”
Kanjou berteriak saat dia memuntahkan darah, dan terjatuh. Meskipun dia menderita dan menggeliat kesakitan untuk sementara, tidak lama kemudian dia berhenti bergerak, dan mengering seperti mumi.
“Te-rima..... kasih.....”
Dan paada akhirnya menjadi debu, tertiup ke langit, dan lenyap bersama dengan itu.
“Ini..... apa yang terjadi?”
“Yamamoto Kanjou mungkin sudah mati saat memulainya. Sihir energi, kekuatan fisik, semuanya telah dihisap oleh permata itu”
Kanjou lenyap dam Rin menjawab dengan ringan saat sisa-sisa dari pakaian Yamagata terlihat. Dengan kata lain, ketika permata itu hancur, maka mustahil untuk mempertahankan tubuhnya. Jadi, ketika itu dia sudah mejadi mayat hidup
“Aa, Oyakata-sama........!”
Pada suara yang lemah dari Tsubaki-san, kami berbalik dan melihat Shingen dan prajurit demon lainnya berubah menjadi debu seperti Kanjou sebelumnya, kemudian saat angin bertiup, mereka lenyap pada langit malam. Akan lebih baik jika mereka bisa beristirahat dengan tenang.
Ke-4 Raja dan Tsubaki-san meletakkan tangan mereka secara bersamaan dan berdoa untuk orang mati. Apakah karena aku orang Jepang? Aku secara alami meletakan tanganku juga secara bersamaan dan melakukan hal yang sama.
Chapter 60 : Permata Keabadian dan Berdo’a
Setelah menghancurkan sihir penghalang yang ada pada jizou, aku mencari para prajurit demon pada layar peta smartphone . Baiklah, sepertinya itu bekerja, aku bisa mencari mereka sekarang. Kemudian, aku mengunci semua prajurit demon.
“O-oi, apa itu.......!?”
Menutupi langit malam, ada lingkaran sihir kecil dari [Multiple], dan Yamagata-ossan terlihat kagum. Sambil melihat itu, Rin bertanya.
“Kau akan melakukan itu?”
“Aku pikir itu akan menjadi pilihan yang terbaik untuk menyingkirkan para pengganggu, bukan? Itu akan merepotkan, jika kita terkepung saat melakukan teleportasi ke sana.”
Aku mengangkat tanganku ke langit dan mengkonsentrasikan sihir untuk mengaktifkan lingkaran sihir [Multiple]
[Keluarlah cahaya ~ Tombak suci yang bersinar; Shining Javelin!]
Hujan cahaya berjatuhan. Itu bersinar terang dengan indah pada kegelapan, itu seperti hujan meteor. Namun, aku tidak pernah berpikir bahwa itu akan menyebabkan dampak dan getaran menjadi seperti ini, di mana mereka semua terjatuh. Tombak cahaya terjatuh di sekitar rumah besar, dan para prajurit demon pun hancur. Apakah itu di dalam atau di luar, cahaya itu jatuh terlepas tanpa menghiraukannya. Ini gawat..... Aku tidak pernah menduga akan menjadi seperti itu. Tak lama setelah hujan cahaya mereda, ada sebuah teriakan “Serang, serang!” dari prajurit musuh yang bisa didengar, dan sama seperti sebelumnya, aku juga menargertkan [Prajurit musuh Takeda] dan menggunakan [Paralyze] pada mereka, dan dengan cepat mereka semua terjatuh.
“Baiklah, ayo kita pergi”
“Oi.... apakah semua yang terjadi tadi adalah perbuatanmu?”
Menggelengkan kepalanya secara perlahan, Baba-jiisan membuka dan menutup mulutnya. Kedua orang yang lainnya mulutnya terbuka , tapi tidak bisa mengatakan apa-apa, dan tidak lama kemudian, mereka akhirnya mulai mengerluarkan suara mereka.
“Itu...... Benar-benar tak terduga.........”
“Oi, Oi, apakah kau juga melakukannya kepada Kanjou?”
Karena aku telah menargetkan [Prajurit musuh Takeda], mungkin Kanjou juga termasuk dalam pencarian itu. Tapi, aku yakin bahwa dia mungkin masih selamat. Aku menggunakan [Paralyze] pada mereka, tapi tidak benar-benar bekerja pada orang-orang yang mempunyai kemampuan sihir yang tinggi.
“Kanjou mungkin baik-baik saja. Sekarang, mari kita segera menyelesaikan ini”
Aku membuka [Gate] ke daerah bagian dalam, di mana Kanjou berada. Aku keluar dari cahaya gerbang dan muncul di sebuah taman yang luas di perkebunan, dan ada seseorang bermata satu sedang berdiri. Prajurit Takeda yang berada di sekitarnya yang berada di atas tanah tidak bisa bergerak. Di sekitarnya ada api unggun, di mana bayangan bergerak di sekitar orang yang mengenakan penutup mata yang tiba-tiba muncul sambil menatap kami.
“Aku mengerti. Aku bertanya-tanya, siapa yang telah melakukan semua ini, dan ternyata itu adalah ke-4 raja, ‘kah? Yah, ini adalah sebuah kejutan. Hanya saja, bagaimana kalian melakukannya?”
“Tidak ada yang perlu kami katakan kepada orang brengsek sepertimu, cepat mati saja sana!”
Menyiapkan large sword-nya, dan secara tiba-tiba Yamagata meneyerang Kanjou, bertujuan untuk menusuknya. Tung- dia cepat sekali! Itu terlihat seperti serangan Yamagata Masakage itu akan memotong kepala Kanjou. Namun, ada seorang prajurit yang mengenakan armor yang berada di dekatnya, yang datang untuk menangkis serangannya.
“Na!?”
Itu adalah orang dengan rambut putih yang berantakan, yang terbungkus dengan helm dengan armor yang berwarna merah, yang telah menangkis serangan dengan seluruh kekuatannya. Itu adalah topeng demon. Tingginya sekitar 2 meter, dengan ototnya yang besar. Orang ini...... mungkinkah dia......
“Oyakata-sama”
Sebuah suara, berasal dari ketegangan Baba-jiisan, aku juga berpikir begitu, karena aku melihat kembali pada prajurit dengan armor merah. Itu adalah Takeda Shingen. Mantan pemimpin Takeda. Sekarang dia hanyalah boneka.
“Kanjou, brengsek kau! Kau menggunakan Oyakata-sama sebagai perisaimu!?”
“Perisai? Oyakata-sama hanya ingin melindungiku saja. Tapi, sepertinya persenjataannya masih kurang, jadi aku minta maaf. Mari kita panggil penggantinya.”
Kanjou mengumpulkan sihir di sekelilingnya, dan lingkaran sihir yang besar muncul di tengah taman. Ini...... sihir atribut kegelapan,
summoning!?
[Kegelapan keluarlah, jadilah prajurit yang aku inginkan; Skeleton Warrior]
Dari lingkaran sihir, muncul skeleton yang dilengkapi dengan pedang yang melengkung di tangan kanannya, dan sebuah perisai yang bundar pada tangan kirinya. Dia benar-benar spesialisasi mayat hidup.
[Blade mode]
Aku mengeluarkan Brunhild dan menembakannya, kemudian aku mengubahnya menjadi long-sword . Sama seperti itu, aku menyerang dan memotong para skeleton. Namun, skeleton yang seharusnya telah terpotong, secara perlahan mulai bergerak lagi, tubuhnya bersatu kembali. Tulang belakang yang seharusnya sudah hancur, menyatu kembali, dan mereka berdiri untuk menyerang. Uo!?
[Cahaya keluarlah, duo cahaya yang bersinar; Light Arrow]
Dari suatu tempat, Rin melaflakan sihir cahaya untuk menyerang skeleton. Saat itu, skeleton menjadi hancur berantakan, dan tidak bergerak lagi. Itu tidak menyatu kembali.
“Kau tahu, mayat hidup lemah terhadap atribut cahaya, bukan? Jika cuma memotongnya saja, hanya akan membuang-buang waktu”
Oh, itu benar. Aku merubah kembali Brunhild ke mode-pistol dan mengisikannya peluru, tentu saja, aku menggunakan peluru cahaya. Kemudian, cahaya yang menyilaukan keluar dari letusan pistol, dan kemudian kepala skeleton itu menjadi debu, dan berhenti bergerak. Aku melihat ke sekitar, dan Tsubaki-san, Baba-jiisan, dan Naitou-san telah memotong skeleton satu demi satu, tapi sepertinya tidak peduli berapa banyak mereka memotongnya, skeleton itu terus bangkit kembali.
“Merepotkan. Aku akan menghabisi mereka semua sekaligus”
Rin melepaskan sihir, dan formasi sihir muncul di bawah kakinya. Itu memperluas sampai membungkus seluruh taman.
[Cahaya keluarlah, bersinar teranglah cahaya pengasingan; Banish]
Saat Rin selesai melafalkan mantra, skeleton yang berada di taman hancur ke dalam cahaya dan menghilang. Apa itu? seperti yang diharapkan dari Klan Fairy yang hebat dalam sihir.
“Ku, sihir pemurnian, ‘kah? Kerja bagus, tapi....”
Prajurit dengan armor merah masih menghalangi dan melindungi Kanjou. Pedang Yamagata-ossan tertahan saat menghadapinya.
“Oyakata-sama! Minggirlah!”
“Fufufu, percuma saja. Oyakata-sama membelaku. Kau tidak akan bisa meletakan pedangmu padaku jika masih terus seperti itu pada Oyakata-sama. Jadi—”
Kata-kata Kanjou tersela *Bakin!* dan topeng Shingen retak. Itu sepertinya menyusahkan, jadi aku menembaknya dengan pistol.
“Na!?”
Kanjou terkejut, dan dia melihat sekilas pada Shingen yang telah terjatuh oleh Brunhild ku.
“Bocah, kau.....”
“Aku tidak butuh bantuamu”
“Yah, tapi..... pikirkan juga perasaan kami.....”
Baba-jiisan dan Natou-san menatapku dengan mata kagum, tapi meski kau berkata begitu, itu hanya akan membuatku susah.
“Fu, fufufu, itu cukup bagus bukan? Tapi, aku masih punya ini!”
Kanjou melepaskan penutup mata kirinya. Di balik itu, ada mata merah yang terang, bukan, tapi sebuah bola yang terpasang pada matanya. Itu mengeluarkan cahaya yang menakutkan dan bersinar dengan seram seolah-olah itu berdenyut. Mungkinkah itu adalah [Harta Permata]?
“Selama aku punya [Permata Keabadian] ini, aku tidak akan pernah mati! Bahkan jika aku memenggal kepalaku, itu akan meregenerasi kembali dalam waktu yang singkat!”
“Jadi permata itu yang telah memberikan prajurit topeng demon kekuatan yang abadi?”
“Benar sekali. Ini menyulitkan karena hanya dapat menerima perintah sederhana dari jarak jauh, tapi ini adalah [Artifact] yang menakjubkan karena memberikan pemiliknya penuh dengan sihir dan keabadiaan!”
Kanjou menjawab pertanyaa Rin dengan penuh kebanggan. Jadi semua itu adalah penyebabnya?
“Araaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”
Yamagata memotong tubuh Kanjou dengan pedangnya. Serangan itu menyerang melalui seluruh tubuh dan keluar dari lengan kanan orang itu, lengan yang jatuh berubah menjadi kabut abu-abu dan tersebar, lengan yang baru kemudian muncul pada bahu Kanjou.
“Naaaaaa!”
“Percuma saja! Tidak peduli berapa banyak kau memotongnya, itu akan meregenerasi lagi. Selama aku memiliki permata ini!”
[Aport]
Aku menarik benda bulat itu kepada diriku sendiri. Dengan kata lain, jika tidak ada permata, maka dia tidak akan bisa meregenerasi lagi. Itu terbang menjauh dari Kanjou seperti sebuah bola merah yang bersinar, dan terbang ke arahku, aku kemudian menangkapnya.
“Na!?”
Kanjou menjatuhkan dirinya sendiri dan menyentuh mata kirinya dengan tangannya. Tentu saja tidak ada permata di sana.
“Brengsek, sejak kapan kau!?”
“Perkataanmu tidak bagus kau tahu, itu bukan sihir atribut?”
“Ah, ini adalah [Aport], sesuatu yang dapat menarik benda-benda kecil ke arah dirimu sendiri. Ini benar-benar berguna di saat-saat seperti ini”
Rin tiba-tiba mengambilnya dan melihat permata yang ada di tanganku, matanya menyipit saat melihat itu. Dia melihatnya lagi dengan lebih teliti. Itu kotor, kau tahu?
“Hmph, ini tidak bagus. Menyerap energi negatif dan kutukan pada hati pemiliknya yang membuatnya menjadi tidak murni. Ini mirip dengan menempatkan kutukan kepada dirimu. Ini adalah alasan dia menjadi sangat aneh. Hati yang bersih adalah gangguan untuk mengendalikan mayat hidup, jika kau memikirkannya itu cukup masuk akal.”
“Kau sepertinya memahaminya dengan cukup baik”
“Jangan meremehkan Klan Fairy”
Fufun, dan Rin kemudian membusungkan dadanya dengan bangga. Seperti yang diharapkan dari Kepala Klan Fairy. Aku terkadang lupa dengan itu.
“ [Artifact] adalah barang sihir dari peradaban kuno. Itu adalah barang yang sangat berharga, tapi karena diberikan dari orang ke orang, itu kemudian menyerap kebencian dan menjadi sebuah malapetaka. Jadi akan lebih baik untuk menghancurkannya”
Setelah berkata begitu, Rin menggenggam permata pada tangan kanannya dan melakukan wind-up (posisi sebelum melempar bola) ke arah dinding.
“Apa yang kau lakukan!? Hentikan itu!!”
“Tidak mau”
Kanjou berteriak putus asa, dan Rin menanggapinya dengan senyuman jahatnya. Orang ini benar-benar suka untuk melakukan apa yang orang lain benci........ Dia melemparkannya ke dinding batu sekeras yang dia bisa, dan itu hancur berkeping-keping.
“Ugaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!”
Kanjou berteriak saat dia memuntahkan darah, dan terjatuh. Meskipun dia menderita dan menggeliat kesakitan untuk sementara, tidak lama kemudian dia berhenti bergerak, dan mengering seperti mumi.
“Te-rima..... kasih.....”
Dan paada akhirnya menjadi debu, tertiup ke langit, dan lenyap bersama dengan itu.
“Ini..... apa yang terjadi?”
“Yamamoto Kanjou mungkin sudah mati saat memulainya. Sihir energi, kekuatan fisik, semuanya telah dihisap oleh permata itu”
Kanjou lenyap dam Rin menjawab dengan ringan saat sisa-sisa dari pakaian Yamagata terlihat. Dengan kata lain, ketika permata itu hancur, maka mustahil untuk mempertahankan tubuhnya. Jadi, ketika itu dia sudah mejadi mayat hidup
“Aa, Oyakata-sama........!”
Pada suara yang lemah dari Tsubaki-san, kami berbalik dan melihat Shingen dan prajurit demon lainnya berubah menjadi debu seperti Kanjou sebelumnya, kemudian saat angin bertiup, mereka lenyap pada langit malam. Akan lebih baik jika mereka bisa beristirahat dengan tenang.
Ke-4 Raja dan Tsubaki-san meletakkan tangan mereka secara bersamaan dan berdoa untuk orang mati. Apakah karena aku orang Jepang? Aku secara alami meletakan tanganku juga secara bersamaan dan melakukan hal yang sama.
Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 59 Bahasa Indonesia
Arc 8 : Negara Suci Ishen
Chapter 59 : Ke-4 Raja dan Penyelamatan
Dari sebelah barat pada rumah yang besar, di dalam sebuah bangunan terdapat penjara. Bahkan dengan izin-nya, Tsubaki-san tidak akan diizinkan masuk, Rin kemudian membuatnya tidak terlihat juga dengan menggunakan [Invisible], dan kami bertiga menyelinap ke dalam. Di dalam, ada seorang penjaga yang sedang mengawas, dan juga ada tangga yang terbuat dari batu yang mengarah ke bawah tanah. Ada ruangan penjara yang terbuat dari kayu dan bata, dan di sana ada orang tua dengan mata tertutup yang sedang dalam sikap meditasi. Dia sudah tua dengan janggut abu-abu yang panjang dan besar, dan juga banyak kerutan pada wajahnya.
“Siapa itu?”
Dia yang sedang dalam sikap meditasi zen, tiba-tiba mengeluarkan suaranya. Kami berhenti karena terkejut. Meskipun kami tidak terlihat, rupanya dia masih bisa merasakan hawa keberadaan kami.
“Baba-sama, ini Tsubaki. Saya datang untuk menyelamatkan anda. Di mana Yamagata-sama dan Naitou-sama?”
“Kousaka....? F~un, orang yang berpura-pura mematuhi perintah Kanjou”
Tepi mulutnya terangkat, dan salah satu dari ke-4 raja Takeda tertawa dengan senyum lebar.
“Naitou dan Yamagata ada di ruangan yang lebih dalam lagi. Tapi selain itu, mengapa kau tidak segera menunjukkan penampilanmu?”
Rin melepaskan sihirnya dan orang tua itu mengangkat satu alisnya, itu mungkin karena kenyataannya bahwa kami juga mulai terlihat.
“Siapa kedua orang itu? Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya”
“Dia adalah tamu dari Tokugawa-dono, Mochizuki Touya-dono dan Rin-dono. Mochizuki-dono adalah orang yang telah mengalahkan 15000 pasukan Tokugawa sendirian”
“Apa kau bilang!?”
Orang tua itu menatapku dengan mata lebar. Maksudku, ada 15000 dari mereka? Tidak heran peta penuh dengan mereka.
Orang tua itu mengeluarkan perasaan tidak percaya padaku, tapi untuk saat ini, aku harus melakukan sesuatu pada sel penjara ini. Aku bisa menghempaskannya dengan sihir, tapi itu pasti akan membuat kita ketahuan, bukan? Jadi apa boleh buat.
[Modeling]
Aku mengubah kayu persegi panjang pada sel penjara itu dan membuatnya agar seseorang bisa keluar dari sana. Butuh waktu sekitar 1 menit untuk menyelesaikannya, dan Baba-jiisan berjalan keluar dari sel.
“Kau bisa melakukan beberapa hal yang cukup aneh, bocah”
“Bocah” kau bilang. Yah, memang benar sih bahwa aku jauh lebih muda darimu. Aku tidak akan berani mengatakannya, tapi gadis peri yang berada di sampingku jauh lebih tua dari kita semua. Kemudian kami pergi lebih lanjut ke dalam, dan pindah ke ruangan yang lain dengan sel yang ada di sebelah kiri dan kanan.
Di sel penjara yang di sebelah kanan ada seseorang yang terlihat seperti pengusaha yang baik, yang sudah di ambang pensiun, dan di sebelah kiri sel ada seorang pria tua dengan tampilan yang jelas terlihat seperti pahwalan dengan beberapa bekas luka.
“Oo, Baba-dono. Kau baik-baik saja”
Salah satu pria dari penjara itu berseru. (Aku rasa orang yang mengatakan itu adalah orang yang berada di sebelah kanan)
“Sepertinya ini akan menjadi menarik bukan, Baba-dono? Jika kau akan menggila, maka biarkan aku juga ikut”
Orang yang memiliki bekas luka itu melihat ke arah kami dengan senang hati dan berdiri ke dekat jeruji. Melihat kami berdua, Baba-jiisan mengeluarkan desahan kecil.
“Naitou. Kau benar-benar harus merasakan sedikit ketegangan pada wajahmu itu. Kau selalu saja tersenyum longgar. Dan kau, Yamagata. Kau harus sedikit lebih berpikir lagi, jangan hanya memikirkan pertarungan saja”
Fuun. Orang yang terlihat seperti pengusaha itu adalah Naito Masatoyo, dan orang yang memiliki bekas luka itu adalah Yamagata Masakage?
“Bocah, maaf, tapi bisakah kau mengeluarkan orang-orang ini juga?”
“Aku tidak keberatan sih, tapi bisakah kau berhenti memanggilku bocah?”
Aku berkata padanya dengan wajah cemberut, Rin membuka mulutnya dan berbicara pada orang tua itu.
“Anak ini adalah calon raja Belfast, jika aku jadi kau, aku akan lebih berhati-hati lagi saat berbicara padanya”
Mendengar kata-kata itu, tidak hanya Baba-jiisan, tapi kedua orang yang lainnya juga kehilangan kata-katanya. Yah, memang tidak ada yang salah dengan apa yang dikatakan oleh Rin, tapi cara dia mengatakannya itu terasa sedikit mengganguku. Itu masih belum disetujui.
“Apakah begitu? U-mu, tapi untuk mengubahnya secara tiba-tiba, sepertinya terasa tidak pantas.... Bukankah begitu, bocah?”
Pada kata-katanya orang tua itu, Rin tertawa dan mengangkat bahunya. Percuma saja. Dia bukan tipe orang yang akan mendengarkan apa yang tidak dia ingin dengar.
“Biarkan aku untuk memanggilmu Touya-dono”
“Baiklah, kalau begitu, aku akan memanggilmu Touya”
Naitou-ossan dan Yamagata-ossan mengatakan sesuka hati mereka. Apakah Takeda penuh dengan orang bebas seperti itu? Serius, Aku jadi ingin bertemu dengan orang yang mengajarkan mereka aturan.
Dengan [Modeling], aku membebaskan kedua orang itu seperti sebelumnya. Setelah itu, Rin memberikan sihir [Invisible] kepada semuanya, semuanya kemudian pergi menaiki tangga, menyelinap melewati penjaga, dan melarikan diri dari penjara.
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan sekarang, calon raja selanjutnya?”
Naito-san memanggil sambil tersenyum geli. Aku mengatakan kepada mereka apa yang sementara ini ada dalam pikiranku.
“Setelah kami membiarkan kalian keluar dari sini, kami berencana untuk menangkap Kanjou”
“Oi, Oi, jangan pergi sendirian begitu. Bawa aku juga bersamamu, Touya. Aku harus memberikan rasa terima kasihku kepada bajingan itu setelah apa yang dia berikan kepada kami.”
Yamagata-ossan membunyikan jari-jari tangannya sambil menunjukkan senyuman yang tak kenal takut. Ketika ia mengatakan dengan senyuman yang tak kenal takut seperti itu, entah kenapa itu terlihat agak menakutkan.
“Ada beberapa pasukan demon di sekitarnya Kanjou, dia juga berlatih sihir aneh. Orang itu bukan manusia biasa, bisakah kau mengalahkannya?”
Baba-jiisan mengatakan sesuatu yang aneh. Apa maksudmu? Saat aku akan bertanya, Naitou-san memberikan jawaban.
“Semenjak Yamamoto Kanjou menjabat sebagai ahli strategi. Dia adalah orang yang pintar dan juga orang yang memiliki kedudukan tinggi, sebagai ahli strategi dia benar-benar hebat. Tapi suatu waktu, dia memperoleh sebuah permata yang disebut [Harta Permata] yang memiliki kekuatan demon, sejak saat itu ia mulai menjadi aneh. Dia akan membunuh kucing dan anjing untuk menguji sesuatu, dan tak lama kemudian dia mulai mencobanya pada manusia. Kemudian setelah mereka mati, dia akan memanipulasi mereka dengan [Topeng demon] dengan kekuatan yang telah diperolehnya. Kami tidak dapat menghentikannya. [Harta Permata] itu adalah sesuatu yang tidak bisa kami lawan....”
Yamamoto Kanjou menjadi aneh karena [Harta Permata] itu? Sebuah kekuatan demon telah terlahir...... Benar. Mungkin itu adalah [Artifact] yang mengendalikan orang yang telah mati?
“Menurutmu bagiamana, Rin?”
“Tidak salah lagi, sepertinya ada sesuatu yang aneh dari permata itu.
Itu adalah sebuah [Artifact] yang sangat kuat, bisa jadi bahwa ada dendam yang melekat padanya juga. Penghasil dendam, sesuatu seperti itu mungkin tertinggal di dalamnya”
Dendam..... kalau begitu, itu mungkin seperti barang terkutuk, bukan? Tapi kalau sudah seperti itu, maka bisa dipahami dengan mudah. Kesadaran dari sang ahli strategi Yamamoto Kanjou mungkin telah diambil alih oleh kekuatan dari permata itu. Jika permata itu hancur, aku ingin tahu apa yang akan terjadi?
Aku bertanya kepada Tsubaki-san yang ada di sampingku.
“Di mana Kanjou sekarang?”
“Dia mungkin ada di daerah bagian dalam dari kediaman ini........”
Aku mengambil smartphone dan mencari Yamamoto Kanjou untuk memeriksanya. Nn? Dia tidak ada di sini? Tunggu, tidak ada. Aku kemudian mencoba untuk memastikannya dengan mencoba untuk mencari Rin, tapi tidak ada pin yang muncul. Apakah itu karena penghalang? Itu juga mencegah [Search]. Itu benar-benar menyedihkan.
“Tsubaki-san, di mana daerah bagian dalam itu?”
“Etto..... di sebelah sana”
Aku menggunakan [Long sense] ke arah yang ditunjukan. Aku berpikir bahwa ini akan terpengaruh juga, tapi ternyata tidak. Aku ingin tahu apakah itu karena sihirnya digunakan langsung kepadaku?
Di sana ada sebuah taman yang luas, dan pada saat aku akan melihat-lihat bagian dalam dari kediaman itu, seseorang datang ke taman dari kediaman itu. Dia mengenakan kimono dan hakama hitam, dia memiliki kulit coklat-gelap dengan penutup mata pada mata kirinya. Apakah orang itu adalah Kanjou?
Aku mengembalikan pandanganku, dan bertanya kepada Rin tentang bagaimana untuk menghancurkan penghalang. Kami sudah menyelamatkan ke-4 raja, jadi saat sudah menemukannya, kita bisa mengirim mereka langsung ke tempat Kanjou, jadi tidak ada masalah.
“Mungkin ada beberapa sihir pada masing-masing dari ke-empat sudut kediaman ini. Kau hanya perlu untuk menghancurkan salah satunya.”
“Aku tahu di mana sihir penghalang itu. lewat sini”
Yamagata-ossan memimpin kami. Karena kita semua masih dalam keadaan tidak terlihat, kami bisa sampai menuju ke sana tanpa diketahui. Di sudut dinding ada sebuah ruangan kecil, ada sebuah batu jizo kecil. Tingginya sekitar tinggi Pola?
Note : Jizo adalah sejenis patung Budha
“Tidak salah lagi. Jizo itu sendiri adalah salah satu dari sihir penghalangnya”
Aku pikir sihir penghalangnya itu adalah sebuah kertas, tapi ternyata aku salah. Patung ini memiliki arti perlindungan, pada kenyataannya ternyata bentuk tidak terlalu penting.
“Kalau begitu, setelah menghancurkan ini kita bisa langsung teleportasi ke tempat Kanjou?”
“Tidak, tunggu bocah. Meski begitu, kami masih tidak memiliki senjata apapun. Apakah kau tidak memiliki senjata?”
Kau masih saja berbicara seperti itu. Apa yang dikatakan Baba-jiisan memang benar, satu-satunya senjata yang aku miliki adalah Brunhild dan Remington model baru. Tapi aku tidak bisa meminjamkan salah satunya........
“Apa boleh buat. Aku akan membuat beberapa”
“””Membuatnya??”””
Aku mengabaikan apa yang mereka katakan, dan aku mengeluarkan seikat baja yang terbungkus, sisa dari membuat sepeda.
“Apakah tombak saja tidak apa-apa? Atau kalian ada sebuah permintaan?”
“A? Aa, tombak saja tidak apa-apa untukku, Naitou menggunakan 2
daggers dan Yamagata menggunakan
large sword.......”
“Aiyo”
Menggunakan [Modeling], aku merubah baja. Petama-tama, aku membuat dua buah dagger yang sama dengan mudah, berikutnya adalah large sword, dan yang terakhir adalah tombak. Kemudian aku menyerahkan masing-masing dari senjata itu kepada mereka.
“Ini semua dibuat dalam waktu yang singkat...... itu sungguh hebat, Touya-san”
“Karena terbuat dari baja, aku pikir ini akan menjadi berat.... Tapi ternyata tombak ini lebih ringan dari yang aku duga. Meskipun keseimbangannya masih sedikit kurang.”
Untuk membuatnya sedikit lebih ringan, aku membuat sebuah celah pada tengah-tengah pegangannya. Itu sesuatu seperti pipa baja. Karena di buat dari potongan baja, aku pikir itu akan tahan cukup lama, tapi aku tidak bisa menjamin dengan pisaunya.
“Kalau begitu, apakah kalian semua sudah siap?”
Semuanya mengangguk untuk memastikan. Aku mengeluarkan
Remington model baru dari saku pinggangku, dan memuat peluru dengan daya ledakan yang kecil. Aku mengarahkan pistolku pada Jizo. Aku tidak tahu apakah ini akan memberikanku hukaman karena telah melakukan ini, tapi aku harap aku bisa terhindar dari itu. Sementara berpikir begitu, kemudian aku menarik pelatuknya, dan pecahan dari batu itu pun tersebar menjadi debu.
Chapter 59 : Ke-4 Raja dan Penyelamatan
Dari sebelah barat pada rumah yang besar, di dalam sebuah bangunan terdapat penjara. Bahkan dengan izin-nya, Tsubaki-san tidak akan diizinkan masuk, Rin kemudian membuatnya tidak terlihat juga dengan menggunakan [Invisible], dan kami bertiga menyelinap ke dalam. Di dalam, ada seorang penjaga yang sedang mengawas, dan juga ada tangga yang terbuat dari batu yang mengarah ke bawah tanah. Ada ruangan penjara yang terbuat dari kayu dan bata, dan di sana ada orang tua dengan mata tertutup yang sedang dalam sikap meditasi. Dia sudah tua dengan janggut abu-abu yang panjang dan besar, dan juga banyak kerutan pada wajahnya.
“Siapa itu?”
Dia yang sedang dalam sikap meditasi zen, tiba-tiba mengeluarkan suaranya. Kami berhenti karena terkejut. Meskipun kami tidak terlihat, rupanya dia masih bisa merasakan hawa keberadaan kami.
“Baba-sama, ini Tsubaki. Saya datang untuk menyelamatkan anda. Di mana Yamagata-sama dan Naitou-sama?”
“Kousaka....? F~un, orang yang berpura-pura mematuhi perintah Kanjou”
Tepi mulutnya terangkat, dan salah satu dari ke-4 raja Takeda tertawa dengan senyum lebar.
“Naitou dan Yamagata ada di ruangan yang lebih dalam lagi. Tapi selain itu, mengapa kau tidak segera menunjukkan penampilanmu?”
Rin melepaskan sihirnya dan orang tua itu mengangkat satu alisnya, itu mungkin karena kenyataannya bahwa kami juga mulai terlihat.
“Siapa kedua orang itu? Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya”
“Dia adalah tamu dari Tokugawa-dono, Mochizuki Touya-dono dan Rin-dono. Mochizuki-dono adalah orang yang telah mengalahkan 15000 pasukan Tokugawa sendirian”
“Apa kau bilang!?”
Orang tua itu menatapku dengan mata lebar. Maksudku, ada 15000 dari mereka? Tidak heran peta penuh dengan mereka.
Orang tua itu mengeluarkan perasaan tidak percaya padaku, tapi untuk saat ini, aku harus melakukan sesuatu pada sel penjara ini. Aku bisa menghempaskannya dengan sihir, tapi itu pasti akan membuat kita ketahuan, bukan? Jadi apa boleh buat.
[Modeling]
Aku mengubah kayu persegi panjang pada sel penjara itu dan membuatnya agar seseorang bisa keluar dari sana. Butuh waktu sekitar 1 menit untuk menyelesaikannya, dan Baba-jiisan berjalan keluar dari sel.
“Kau bisa melakukan beberapa hal yang cukup aneh, bocah”
“Bocah” kau bilang. Yah, memang benar sih bahwa aku jauh lebih muda darimu. Aku tidak akan berani mengatakannya, tapi gadis peri yang berada di sampingku jauh lebih tua dari kita semua. Kemudian kami pergi lebih lanjut ke dalam, dan pindah ke ruangan yang lain dengan sel yang ada di sebelah kiri dan kanan.
Di sel penjara yang di sebelah kanan ada seseorang yang terlihat seperti pengusaha yang baik, yang sudah di ambang pensiun, dan di sebelah kiri sel ada seorang pria tua dengan tampilan yang jelas terlihat seperti pahwalan dengan beberapa bekas luka.
“Oo, Baba-dono. Kau baik-baik saja”
Salah satu pria dari penjara itu berseru. (Aku rasa orang yang mengatakan itu adalah orang yang berada di sebelah kanan)
“Sepertinya ini akan menjadi menarik bukan, Baba-dono? Jika kau akan menggila, maka biarkan aku juga ikut”
Orang yang memiliki bekas luka itu melihat ke arah kami dengan senang hati dan berdiri ke dekat jeruji. Melihat kami berdua, Baba-jiisan mengeluarkan desahan kecil.
“Naitou. Kau benar-benar harus merasakan sedikit ketegangan pada wajahmu itu. Kau selalu saja tersenyum longgar. Dan kau, Yamagata. Kau harus sedikit lebih berpikir lagi, jangan hanya memikirkan pertarungan saja”
Fuun. Orang yang terlihat seperti pengusaha itu adalah Naito Masatoyo, dan orang yang memiliki bekas luka itu adalah Yamagata Masakage?
“Bocah, maaf, tapi bisakah kau mengeluarkan orang-orang ini juga?”
“Aku tidak keberatan sih, tapi bisakah kau berhenti memanggilku bocah?”
Aku berkata padanya dengan wajah cemberut, Rin membuka mulutnya dan berbicara pada orang tua itu.
“Anak ini adalah calon raja Belfast, jika aku jadi kau, aku akan lebih berhati-hati lagi saat berbicara padanya”
Mendengar kata-kata itu, tidak hanya Baba-jiisan, tapi kedua orang yang lainnya juga kehilangan kata-katanya. Yah, memang tidak ada yang salah dengan apa yang dikatakan oleh Rin, tapi cara dia mengatakannya itu terasa sedikit mengganguku. Itu masih belum disetujui.
“Apakah begitu? U-mu, tapi untuk mengubahnya secara tiba-tiba, sepertinya terasa tidak pantas.... Bukankah begitu, bocah?”
Pada kata-katanya orang tua itu, Rin tertawa dan mengangkat bahunya. Percuma saja. Dia bukan tipe orang yang akan mendengarkan apa yang tidak dia ingin dengar.
“Biarkan aku untuk memanggilmu Touya-dono”
“Baiklah, kalau begitu, aku akan memanggilmu Touya”
Naitou-ossan dan Yamagata-ossan mengatakan sesuka hati mereka. Apakah Takeda penuh dengan orang bebas seperti itu? Serius, Aku jadi ingin bertemu dengan orang yang mengajarkan mereka aturan.
Dengan [Modeling], aku membebaskan kedua orang itu seperti sebelumnya. Setelah itu, Rin memberikan sihir [Invisible] kepada semuanya, semuanya kemudian pergi menaiki tangga, menyelinap melewati penjaga, dan melarikan diri dari penjara.
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan sekarang, calon raja selanjutnya?”
Naito-san memanggil sambil tersenyum geli. Aku mengatakan kepada mereka apa yang sementara ini ada dalam pikiranku.
“Setelah kami membiarkan kalian keluar dari sini, kami berencana untuk menangkap Kanjou”
“Oi, Oi, jangan pergi sendirian begitu. Bawa aku juga bersamamu, Touya. Aku harus memberikan rasa terima kasihku kepada bajingan itu setelah apa yang dia berikan kepada kami.”
Yamagata-ossan membunyikan jari-jari tangannya sambil menunjukkan senyuman yang tak kenal takut. Ketika ia mengatakan dengan senyuman yang tak kenal takut seperti itu, entah kenapa itu terlihat agak menakutkan.
“Ada beberapa pasukan demon di sekitarnya Kanjou, dia juga berlatih sihir aneh. Orang itu bukan manusia biasa, bisakah kau mengalahkannya?”
Baba-jiisan mengatakan sesuatu yang aneh. Apa maksudmu? Saat aku akan bertanya, Naitou-san memberikan jawaban.
“Semenjak Yamamoto Kanjou menjabat sebagai ahli strategi. Dia adalah orang yang pintar dan juga orang yang memiliki kedudukan tinggi, sebagai ahli strategi dia benar-benar hebat. Tapi suatu waktu, dia memperoleh sebuah permata yang disebut [Harta Permata] yang memiliki kekuatan demon, sejak saat itu ia mulai menjadi aneh. Dia akan membunuh kucing dan anjing untuk menguji sesuatu, dan tak lama kemudian dia mulai mencobanya pada manusia. Kemudian setelah mereka mati, dia akan memanipulasi mereka dengan [Topeng demon] dengan kekuatan yang telah diperolehnya. Kami tidak dapat menghentikannya. [Harta Permata] itu adalah sesuatu yang tidak bisa kami lawan....”
Yamamoto Kanjou menjadi aneh karena [Harta Permata] itu? Sebuah kekuatan demon telah terlahir...... Benar. Mungkin itu adalah [Artifact] yang mengendalikan orang yang telah mati?
“Menurutmu bagiamana, Rin?”
“Tidak salah lagi, sepertinya ada sesuatu yang aneh dari permata itu.
Itu adalah sebuah [Artifact] yang sangat kuat, bisa jadi bahwa ada dendam yang melekat padanya juga. Penghasil dendam, sesuatu seperti itu mungkin tertinggal di dalamnya”
Dendam..... kalau begitu, itu mungkin seperti barang terkutuk, bukan? Tapi kalau sudah seperti itu, maka bisa dipahami dengan mudah. Kesadaran dari sang ahli strategi Yamamoto Kanjou mungkin telah diambil alih oleh kekuatan dari permata itu. Jika permata itu hancur, aku ingin tahu apa yang akan terjadi?
Aku bertanya kepada Tsubaki-san yang ada di sampingku.
“Di mana Kanjou sekarang?”
“Dia mungkin ada di daerah bagian dalam dari kediaman ini........”
Aku mengambil smartphone dan mencari Yamamoto Kanjou untuk memeriksanya. Nn? Dia tidak ada di sini? Tunggu, tidak ada. Aku kemudian mencoba untuk memastikannya dengan mencoba untuk mencari Rin, tapi tidak ada pin yang muncul. Apakah itu karena penghalang? Itu juga mencegah [Search]. Itu benar-benar menyedihkan.
“Tsubaki-san, di mana daerah bagian dalam itu?”
“Etto..... di sebelah sana”
Aku menggunakan [Long sense] ke arah yang ditunjukan. Aku berpikir bahwa ini akan terpengaruh juga, tapi ternyata tidak. Aku ingin tahu apakah itu karena sihirnya digunakan langsung kepadaku?
Di sana ada sebuah taman yang luas, dan pada saat aku akan melihat-lihat bagian dalam dari kediaman itu, seseorang datang ke taman dari kediaman itu. Dia mengenakan kimono dan hakama hitam, dia memiliki kulit coklat-gelap dengan penutup mata pada mata kirinya. Apakah orang itu adalah Kanjou?
Aku mengembalikan pandanganku, dan bertanya kepada Rin tentang bagaimana untuk menghancurkan penghalang. Kami sudah menyelamatkan ke-4 raja, jadi saat sudah menemukannya, kita bisa mengirim mereka langsung ke tempat Kanjou, jadi tidak ada masalah.
“Mungkin ada beberapa sihir pada masing-masing dari ke-empat sudut kediaman ini. Kau hanya perlu untuk menghancurkan salah satunya.”
“Aku tahu di mana sihir penghalang itu. lewat sini”
Yamagata-ossan memimpin kami. Karena kita semua masih dalam keadaan tidak terlihat, kami bisa sampai menuju ke sana tanpa diketahui. Di sudut dinding ada sebuah ruangan kecil, ada sebuah batu jizo kecil. Tingginya sekitar tinggi Pola?
Note : Jizo adalah sejenis patung Budha
“Tidak salah lagi. Jizo itu sendiri adalah salah satu dari sihir penghalangnya”
Aku pikir sihir penghalangnya itu adalah sebuah kertas, tapi ternyata aku salah. Patung ini memiliki arti perlindungan, pada kenyataannya ternyata bentuk tidak terlalu penting.
“Kalau begitu, setelah menghancurkan ini kita bisa langsung teleportasi ke tempat Kanjou?”
“Tidak, tunggu bocah. Meski begitu, kami masih tidak memiliki senjata apapun. Apakah kau tidak memiliki senjata?”
Kau masih saja berbicara seperti itu. Apa yang dikatakan Baba-jiisan memang benar, satu-satunya senjata yang aku miliki adalah Brunhild dan Remington model baru. Tapi aku tidak bisa meminjamkan salah satunya........
“Apa boleh buat. Aku akan membuat beberapa”
“””Membuatnya??”””
Aku mengabaikan apa yang mereka katakan, dan aku mengeluarkan seikat baja yang terbungkus, sisa dari membuat sepeda.
“Apakah tombak saja tidak apa-apa? Atau kalian ada sebuah permintaan?”
“A? Aa, tombak saja tidak apa-apa untukku, Naitou menggunakan 2
daggers dan Yamagata menggunakan
large sword.......”
“Aiyo”
Menggunakan [Modeling], aku merubah baja. Petama-tama, aku membuat dua buah dagger yang sama dengan mudah, berikutnya adalah large sword, dan yang terakhir adalah tombak. Kemudian aku menyerahkan masing-masing dari senjata itu kepada mereka.
“Ini semua dibuat dalam waktu yang singkat...... itu sungguh hebat, Touya-san”
“Karena terbuat dari baja, aku pikir ini akan menjadi berat.... Tapi ternyata tombak ini lebih ringan dari yang aku duga. Meskipun keseimbangannya masih sedikit kurang.”
Untuk membuatnya sedikit lebih ringan, aku membuat sebuah celah pada tengah-tengah pegangannya. Itu sesuatu seperti pipa baja. Karena di buat dari potongan baja, aku pikir itu akan tahan cukup lama, tapi aku tidak bisa menjamin dengan pisaunya.
“Kalau begitu, apakah kalian semua sudah siap?”
Semuanya mengangguk untuk memastikan. Aku mengeluarkan
Remington model baru dari saku pinggangku, dan memuat peluru dengan daya ledakan yang kecil. Aku mengarahkan pistolku pada Jizo. Aku tidak tahu apakah ini akan memberikanku hukaman karena telah melakukan ini, tapi aku harap aku bisa terhindar dari itu. Sementara berpikir begitu, kemudian aku menarik pelatuknya, dan pecahan dari batu itu pun tersebar menjadi debu.
Langganan:
Komentar (Atom)

