Arc 8 : Negara Suci Ishen
Chapter 55 : Oedo, dan Pergerakan Besar Takeda
Aku kembali ke rumah dan menunggu sampai Elsie pulang ke rumah, dan bersiap-siap untuk pergi lagi ke Ishen. Party ini terdiri dari Yae, Elsie-Lindsey, Yumina-Kohaku, dan juga Rin-Pola. Di pandu oleh Yae, kami meninggalkan hutan, dan kemudian secara perlahan langit mulai bisa terlihat.
“Oo......”
Kami mengeluarkan suara kekaguman. Apa yang muncul di hadapan kami adalah pesawahan yang terhampar luas dari sebuah desa yang ada di perbukitan yang kecil. Sebuah kastil juga telah di bangun di sana. Itu seperti sebuah kastil dari Himeji atau Osaka. Meskipun terlihat agak kecil.
“Ini adalah kampung halamanku, Oedo ~ de gozaru”
Oo, ternyata itu bukan Edo, melainkan Oedo. Secara sekilas itu mudah untuk dikatakan bahwa kota ini berbeda dengan yang ada di drama sejarah. Pertama, itu adalah sebuah kota benteng. Ada sebuah parit besar di depan dinding putih yang tinggi untuk melindungi dari serangan musuh. Ada menara pengawas yang dibangun di atas benteng, aku dengar bahwa ada para prajurit pemanah di sepanjang dindingnya. Meskipun ada rumah di sekitar pesawahan, kebanyakan bangunan berada di dalam benteng tersebut.
Ishen sama sekali bukanlah negara yang besar. Meskipun terlihat seperti memiliki Raja, tetapi itu hanyalah sekedar nama saja, dan para penguasa daerah sepertinya memliki cara mereka sendiri. Ada sembilan pemimpin feodal untuk memerintah setiap provinsinya (Sepertinya ada sebuah pertempuran) dan melalui pimpinan dari sesosok kepala raja, negara sepertinya bisa mempertahankan bentuknya. Ada sembilan pemimpin feodal, di antaranya adalah Shimatsu, Mouri, Chousokabe, Hashiba, Oda, Takeda, Tokugawa, Uesugi, Date... Hei tunggu, oi. Nama-nama itu sangat tidak asing lagi untukku. Apa ini? Apakah Ishen sedang dalam zaman sengoku? Aku bertanya pada Yae, tapi dia bilang tidak pernah ada perang dalam skala yang besar selama beberapa dekade terakhir. Apakah ini sebuah kebetulan?
Note : Feodal, sebuah kekuasaan yang dijalankan oleh kalangan bangsawan untuk mengendalikan berbagai wilayah yang telah diklaimnya. Pada zaman sengoku, dalam bahasa Jepang feodal disebut “Taishin (大 身)”
Oedo, rumah keluarga Yae ada di sebelah timur pada negara Ishen, di wilayah yang dikendalikan oleh Tokugawa. Dia sepertinya adalah pemimpin yang kaya dan juga baik.
“Jadi, di mana tempat reruntuhan kuno yang ingin kau kunjungi itu, Rin?”
Meskipun kau menyebutnya kecil, Ishen mempunyai ukuran yang layak untuk sebuah negara. Kita tidak bisa pergi dan mencarinya secara acak.
“Aku tidak tahu tempatnya. Hanya saja, namanya adalah [Reruntuhan Niruya]“
“Apakah kau mengetahuinya, Yae?”
“Niruya....? Aku belum pernah mendengarnya. Tapi, sepertinya ayahku mengetahuinya”
Untuk sementara, Yae memimpin kita untuk menuju ke kota. Kami menyeberangi jemabatan kayu yang telah diturunkan oleh prajurit, dan masuk ke dalam benteng.
Setelah memasuki kota, kota ini benar-benar seperti Jepang pada zaman dahulu. Rumah-rumah yang hampir seluruhnya berlantai satu yang terbuat dari kayu, dengan atap genteng. Pada pintu gesernya dilapisi dengan kertas, dan semua toko memiliki tirai dengan tanda-tanda yang tergantung di pintu masuk (Meskipun huruf dari tanda pada pintu masuk bukanlah bahasa Jepang). Orang-orang yang memakai kimono berjalan di sekitar, bahkan ada juga orang yang berpakaian seperti seorang samurai. Sayangnya tidak ada orang dengan gaya rambut yang jambul, tapi mereka semua memiliki gaya rambut ponytail .
“Uwa, apa itu? Apa yang orang itu bawa?”
Elsie yang sedang melihat-lihat ke sekitar jalan, terkejut saat melihat dua orang yang datang ke arah kami.
“Itu adalah rickhsaw. Mereka membayar dengan uang agar bisa ditarik oleh orang lain menggunakan alat itu. Mereka menggantikan kuda dengan orang untuk menariknya.”
Note : Rickhwas, adalah alat transportasi ringan yang beroda dua, yang dirancang untuk membawa satu atau dua penumpang, seperti becak, tapi yang satu ini ditarik oleh manusia.
Aku menjawabnya, lalu Elsie dan yang lainnya terus memandangi rickhsaw.
“..... Kenapa harus repot-repot ditarik oleh orang? Bukankah akan lebih mudah dan cepat jika ditarik dengan kuda.....”
Apa yang telah dikatakan oleh Lindsey ada benarnya juga. Oh, iya, kenapa begitu? Mungkin salah satunya adalah perbedaan budaya.....
“Di Ishen, jalanannya tidaklah terawat, tidak seperti di Belfast. Ada banyak bagian dari jalan yang tidak rata, yang membuat gerobak sulit untuk didorong, ada juga tanjakan yang curam dan menurun, jadi sulit jika dilewati dengan kuda ~ degozaru. Dan juga, kuda sangat mahal”
Aku mengerti, jadi itu alasannya. Tanah di sini dan tanah yang ada di sana memliki banyak perbedaan.
“Touya-san, orang itu, dia memakai sepatu kayu?”
“Sepatu kayu? Aa, itu geta ”
“Menara yang ada di sana, kenapa ada lonceng yang tergantung seperti itu?”
“Itu digunakan sebagai peringatan tanda bahaya, seperti saat kebakaran.....”
“Lonceng angin. Itu membawa perasaan kenikmatan ketika angin bertiup....”
“..... Untuk seseorang yang bukan lahir di Ishen, sepertinya kau mengetahuinya dengan baik, Touya-dono.”
Note : Geta, adalah alas kaki tradisional Jepang yang terbuat dari kayu (bakiak)
Yah, tentu saja. Aku cukup terpengaruhi oleh kakekku tentang drama sejarah. Tapi.... Apa itu? Orang-orang di kota terlihat seperti sangat tidak bahagia. Atau lebih tepatnya terlihat seperti mereka takut akan sesuatu, sesuatu yang membuat mereka merasa tidak nyaman....?
Yae memimpin kami ke kuil yang berada di seberang jalan dari hutan bambu, di sana ada sebuah rumah yang besar.
[Kokoneo Kenjutsu Dojo] tertulis pada sebuah papan yang mewah, kami melihatnya ketika kami melewati pintu gerbang. Ketika kami sampai di depan pintu rumah, Yae berteriak.
“Apakah ada orang?!”
Tidak lama kemudian, detakan dari suara langkah kaki terdengar dari dalam, seorang wanita yang berusia sekitar 20 tahun, yang mengenakan pakaian pelayan dengan rambut hitam, datang.
“Ya, ya, tunggu sebentar..... Eh, Yae-sama!”
“Ayane! Sudah lama tidak bertemu!”
Pembantu yang bernama Ayane itu terkejut, dan kemudian langsung belari menuju Yae.
“Selamat datang kembali, Yae-sama! Nanae-sama! Yae-sama telah kembali!”
Ayane memanggil ke bagian dalam rumah, dan detakan dari langkah kaki bisa terdengar kembali, kali ini seorang wanita yang berusia sekitar 30 tahun, yang mengenakan Kimono berwarna ungu muda muncul. Dia terlihat seperti Yae.
“Ibu! Aku telah kembali!”
“Yae.... Kau sepertinya telah kembali dengan selamat..... Selamat datang kembali”
Jadi dia ternyata adalah Ibunya. Bertemu kembali setelah berpisah cukup lama, ibu dan anak saling berpelukan dengan berlinangkan air mata.
“Yae, siapa mereka?”
“Aa, mereka adalah teman-temanku. Mereka telah sangat membantuku”
“Oh, begitukah.... Terima kasih karena telah menjaga anakku”
“Y-yah, kami benar-benar tidak melakukan apa-apa..... Justru kami lah yang telah banyak dibantu, jadi tolong angkatlah wajah anda.”
Duduk di lantai, ibu Yae mebungkuk dalam-dalam, dan kami menanggapinya dengan terburu-buru. Dia memiliki kasih sayang yang besar terhadap anaknya. Nanae-san menyampaikan perasaannya itu dari sikapnya.
“Oh iya, ibu. Di mana ayah? Apakah dia ada di kastil?”
Pada kata-kata Yae, Nanae-san dan Ayane-san saling memandang, ekspresi mereka menjadi suram. Tidak lama kemudian, Nanae-san berdiri, menatap Yae dan secara perlahan membuka mulutnya.
“Ayahmu tidak ada di sini. Dia pergi bersama Ieyasu-sama..... Untuk bertempur”
“Untuk bertempur!?”
Yae terkejut, dan meninggikan suaranya sambil menatap ibunya.
Pertempuran bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Bukankah negara ini untuk sementara diperintah oleh seorang raja?
“Kemana mereka pergi!?”
“Takeda. Beberapa hari yang lalu, ada serangan kejutan di kuil Katsunuma, di wilayah utara, dan mereka sepertinya akan pergi menuju Kawagoe. Ayahmu dan Shigetaro-sama telah pergi menuju benteng kawagoe.”
Untuk pertanyaan Yae kepada Nanae-san, Ayane-san menjawab untuk menggantikannya. Rupanya seorang pemimpin feodal tiba-tiba telah diserang.
“Apakah Kakak juga ikut berperang.....? Tapi aku tidak mengerti.
Kenapa Takeda tiba-tiba melakukan penyerangan....? Aku tidak percaya bahwa Takeda-sama telah melakukan tindakan yang bodoh seperti itu......”
“Baru-baru ini, Takeda-sama memiliki seorang ahli strategi yang aneh.Mereka memanggilnya Yamamoto. Seseorang dengan satu mata dan kulitnya yang gelap, yang menggunakan sihir yang misterius.....? Ada kemungkinan bahwa orang aneh itu ada hubungannya dengan semua kejadian itu”
Sambil mendengarkan cerita Nanae-san, aku sedikit berpikir. Mereka bilang bahwa ahli strategi Takeda adalah Yamamoto, tidak salah lagi, itu pasti dia. Yamamoto Kansuke. Salah satu dari 24 Jenderal Takeda.
Jika cerita Nanae-san benar, dan dia merupakan seorang penyihir yang aneh. Yah, aku tidak yakin bahwa itu yang terjadi ? Tapi ada beberapa kesamaan yang mengejutkan.
“Bagaimana jalannya pertempuran sekarang?”
Rin, yang telah terdiam dari tadi, tiba-tiba bertanya. Pola yang berada didekat kakinya memiringkan kepalanya. Kohaku juga yang berada di dekatnya melakukan hal yang sama. Mereka terlihat begitu lucu. Ups, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan itu.
“Itu terjadi secara tiba-tiba, mereka tidak benar-benar memiliki waktu untuk mempersiapkan orang-orang yang hebat untuk bertempur, dan itu hanya masalah waktu saja sebelum benteng jatuh, atau seperti yang mereka katakan.”
“Kalau begitu, ayah dan kakak......!”
Yae terkejut dengan penilaian yang dikatakan oleh Ayane-san. Namun, kecemasan dan ketakutannya segera hilang, di matanya, menyala sebuah api yang menandakan kebulatan tekadnya. Yae bukanlah tipe gadis yang akan hanya berdiam diri saja ketika keluarganya sedang dalam keadaan bahaya, kami sangat mengetahuinya dengan baik.
“Touya-dono! Jika benteng Kawagoe ada di punggung bukit yang tidak jauh dari sini. Aku akan pergi! Aku mohon.....!”
“Baiklah, ayo kita pergi”
“Touya-dono.....!”
Aku menggenggam tangan Yae dan mengangguk untuk menyetujuinya. Aku melihat kepada yang lainnya, Elsie, Lindsey, dan Yumina juga memberikan anggukan yang menandakan bahwa mereka juga setuju.
“Aku tidak pernah berpikir bahwa kita akan pergi bertempur. Aku mengerti perasaanmu, jadi aku juga akan pergi.”
Rin mengangkat bahunya sambil tertawa kecil. Rekan setianya, Pola, juga memberikan perasaan seperti dia ingin pergi juga, dan mulai melakukan sebuah gerakan tinju bayangan. Apakah gerakan itu juga dari sihir [Program] ?
“Yae, sekarang bayangkanlah daerah punggung bukit itu!”
“Aku mengerti ~ degozaru”
Aku menggenggam kedua tangan Yae, dan menempatkan dahiku padanya sambil menutup mata. Meskipun situasinya seperti itu, anehnya tidak ada rasa malu seperti sebelumnya.
[Recall]
Pemandangan datang ke dalam pikiranku. Ada sebuah pohon cemara yang besar di sana, dan di kejauahn terlihat sebuah kastil..... tidak, ada sebuah benteng terlihat. Apakah itu benteng Kawagoe? Aku melepaskan tangan Yae dan mulai membuka [Gate] di depan pintu rumah Yae. Kemudian, Yae langsung memasukinya, lalu satu demi satu, Elsie dan yang lainnya menghilang ke sisi yang lain.
Kedua orang yang tertinggal di rumah, terkejut melihat kejadian itu, dan kemudian aku berbicara kepada mereka.
“Kami pasti akan menyelamatkan suami anda dan kakaknya Yae. Semuanya pasti akan pulang kembali dengan selamat, jadi jangan khawatir.”
“Sebenarnya.... Siapa kamu ini.........”
Pada pertanyaan Nanae-san, aku tidak benar-benar yakin bagaimana untuk menanggapinya, jadi aku langsung pergi melewati [Gate].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar