Senin, 12 Februari 2018

The Forsaken Hero Bahasa Indonesia - prolog

Prolog


Aku adalah target penindasan di kelasku.

Kalau harus kukatakan alasannya, akan ada terlalu banyak untuk dihitung. Aku bahkan tak tahu harus mulai dari mana.

Alasan : Wajahku jelek. Badanku gendut.

Bagaimana bisa aku melakukan sesuatu mengenai wajahku? Apa yang bisa kulakuan mengenai badanku?

Keluhanku pun diabaikan.

Alasan : Karena aku orang yang membosankan. Karena aku mempunyai gim percintaan.

Itu hanyalah sekedar hobi pribadiku. Orang lain tak berhak mengatakan apapun mengenai hobiku. Selain itu, selain gim percintaan aku lebih memilih gim pertarungan.

Keluhanku pun ditolak.

Alasan : Karena aku tak pandai belajar maupun berolahraga, karena aku seorang pemuram kurang ajar yang tak bisa mendapatkan teman.
Itu semua karena kalian lah aku sama sekali tak bisa mendapatkan teman. Aku berusaha melakukan yang terbaik untuk belajar dan berolahraga. Memangnya apa yang kalian tahu?

Keluhanku pun diinjak-injak.

Teman-teman sekelasku dan murid-murid seangkatanku semuanya merendahkanku seakan mereka melihat setumpukan sampah, memperlakukanku layaknya sampah dan mencaci makiku.

Aku akan dipukuli layaknya sandbag dan dipaksa membersihkan kekacauan dengan kain usang setiap harinya.

Dan sekarang—sekarang, aku digunakan sebagai umpan demon .

"Ah—"

Walau berusaha mendorong tubuhku untuk melawan, aku dilemparkan ke bawah.

Di bawahku ada berbagai macam monster yang sedang berkumpul.

Ada yang berbentuk serigala.

Ada yang berbentuk kalajengking.

Ada yang berbentuk semut raksaksa.

Mereka semua sedang menunggu untuk mengisi perut mereka dengan makanannya, yakni aku.
Aku bahkan memukul lantai sebelum aku bisa berteriak. Tubuhku yang mati rasa pun tak bisa bergerak.

Para demon itu mendatangiku dari segala arah.
Aku merasakan jemariku yang digigit dan dikunyah.

Aku mersakan kakiku yang dirobek sepotong demi sepotong.

Sakit, sakit, sakit, sakit, sakit......!

"————"

Aku berteriak tanpa bersuara.

Kenapa mereka tak langsung memakan kepalaku saja? Setidaknya, aku akan langsung mati saat itu juga.

Aku ingin dibebaskan dari penderitaan ini sesecepat mungkin.

Perlahan, penglihatanku mulai kabur. Apa aku kehabisan darah?

Kelihatannya sarafku putus, rasa sakit yang menyakitkan sebelumnya pun telah sepenuhnya hilang.

Yang bisa kudengar hanyalah suara kunyahan.
Aku tak bisa melihat teman sekelasku.
Hanya gelap gulita.

Para monster itu gusar walaupun mereka sedang memakanku, kurasa tangganya pun sudah ditutup sehingga mereka takkan bisa mengikutinya.

Tidak, mungkin saja mataku sudah tak berfungsi dengan baik lagi.

Mari coba pikirkan hal lain sebelum aku mati.
Sesuatu yang lebih bagus..... tidak, tak ada hal bagus apapun. Setiap harinya, tak ada hal lain selain penghinaan demi penghinaan.

Itu tak pernah berubah, ‘kan?

Rasa sakit, luka, sekarat.

"Ah"

Akhirnya kepalaku digigit.
Merasakan perasaan itu, kesadaranku pun hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar